Ini Alasan Satelit Satria Dirakit Thales dan Diluncurkan SpaceX

Ini Alasan Satelit Satria Dirakit Thales dan Diluncurkan SpaceX

Agus Tri Haryanto - detikInet
Kamis, 03 Sep 2020 23:08 WIB
A SpaceX Falcon Heavy rocket, carrying the Arabsat 6A communications satellite, lifts off from the Kennedy Space Center in Cape Canaveral, Florida, U.S., April 11, 2019. REUTERS/Thom Baur     TPX IMAGES OF THE DAY
Foto: Thom Baur/Reuters
Jakarta -

Thales Alenia Space dan SpaceX dipercayai untuk merakit dan meluncurkan Satelit Republik Indonesia (Satria) ke slot orbit 146 derajat Bujur Timur. Lalu, apa alasan dipilihnya Thales Alenia Space dan SpaceX dalam proyek satelit Satria ini?

Kedua perusahaan tersebut dipilih PT Satelit Nusantara Tiga, perusahaan yang dibentuk Konsorsium PSN untuk mengoperasikan satelit pemerintah tersebut.

"Seluruh proses pengadaan, baik roket, satelit, maupun ground segment itu di kita selalu menggunakan international tender," ujar CEO PT Satelit Nusantara Tiga Adi Rahman Adiwoso di Jakarta, Kamis (3/9/2020).

Dalam proyek satelit Satria ini, terkait pabrikan satelit, Adi memaparkan bahwa ada lima perusahaan internasional yang diajak untuk kerja sama, yaitu Airbus, Boeing, Space Systems Loral (SSL), Thales Alenia Space, dan Lockheed Martin.

"Yang memberikan jawaban dengan kondisi yang kita inginkan itu ada tiga. Setelah itu negosiasi, jadwal, keuangan, dan speksifikasi. Thales waktu itu memberikan banyak hal yang kita butuhkan dan masalah jadwal yang cukup agresif," ujarnya.

Kemudian terkait pemilihan SpaceX, Adi menceritakan kalau perang dagang AS-China cukup mempengaruhi pemilihan soal proyek satelit Satria ini. Di samping itu, SpaceX juga pernah dijajakinya saat meluncurkan satelit Nusantara Satu (N-1).

"Untuk tender roket ini ada dua, sebenarnya ada empat termasuk dari Rusia dan China, tapi ada embargo barat terhadap pemakaian roket China, sehingga China tidak kita pilih dan pada waktu itu roket Rusia banyak kegagalan, sehingga kami tidak berani memilihnya. Akhirnya antara Arian dan SpaceX, saya sebagai pembeli satelit, roket itu tidak lebih dari transport ke luar angkasa, kita adu dan kita pilih SpaceX," tuturnya.

Dengan batas waktu pembuatan, peluncuran, sampai pengoperasian satelit Satria yang dilakukan hanya dalam tiga tahun ke depan ini, tak sedikit suara pesimis berhembus ke PT Satelit Nusantara Tiga.

"Tadi pertanyaan terkait keyakinan kita peluncuran pada tahun 2023, salah satu keyakinan kita melakukan perjanjian hari ini untuk meyakinkan bahwa pembuatan satelit ini bisa tepat waktu. Kalau ada risiko, sudah kita bangun lebih dulu, sehingga punya margin timing," pungkas Adi.

Melalui satelit Satria ini, pemerintah berupaya untuk menyebarkan akses internet yang mana saat ini belum sepenuhnya masyarakat menikmati layanan menuju dunia maya itu. Dengan Satria yang berjenis High Throughput Satellite (HTS) ini memiliki kapasitas 150 Gbps.

Satelit pemerintah tersebut nantinya akan menghadirkan akses internet gratis ke 150 ribu titik layanan publik di berbagai penjuru Nusantara, terdiri dari 93.900 titik untuk pendidikan (SD, SMP, SMA, dan pesantren), 47.900 titik untuk pemerintahan (kelurahan, kecamatan, pemerintah daerah), 4.900 titik layanan publik lainnya, dan 3.700 titik untuk kesehatan.



Simak Video "Bangun Satelit, Indonesia Dapat Pinjaman Dana dari Prancis dan Beijing"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)