Laporan dari WSIS-Tunisia
Galeri Mimpi di Tunisia
- detikInet
Tunisia -
WSIS.Pengantar redaksi:Onno W. Purbo Ph.D, pakar teknologi informasi (TI) Indonesia, mendapat undangan menjadi salah satu pembicara pada ajang internasional World Summit of the Information Society (WSIS) di Tunisia, 16 hingga 18 November 2005. Onno, meskipun membuat harum nama Indonesia ke tingkat dunia, keberangkatannya ternyata tak disponsori oleh pemerintah Indonesia. Kiprah Onno di WSIS merupakan sebuah bentuk pengakuan dari International Development Research Center (IDRC), sebuah lembaga non-pemerintah asal Kanada, atas kiprah Onno selama ini. IDRC-lah yang kemudian menanggung seluruh biaya perjalanan Onno ke WSIS - Tunisia.Melalui detikinet, Onno menceritakan kisah perjalanannya di WSIS. Tulisan berikut ini adalah laporannya, langsung dari Tunisia.Berbagai Mimpi dan Cita-Cita di WSIS 2005Penampakan berbagai mimpi dan cita-cita menjadi sangat nyata dan transparan di WSIS terutama di paviliun-paviliun yang besar.Paviliun UNDP menyodorkan sebuah slogan yang sangat menantang, yaitu "Satu Komputer untuk Setiap Anak". Khofi Anan bahkan di-quote sebagai salah satu pendorong untuk memberikan komitmen sebuah komputer untuk setiap anak. Teknologi komputer yang ditawarkan adalah komputer Rp. 1 juta (US$100) yang tidak berisi macam-macam, bahkan harddisk yang terbatas sekali.Dalam hati saya berdoa, semoga ini dapat terjadi di Indonesia. Walaupun Rp 1 juta mungkin merupakan biaya hidup 4-5 bulan bagi sebagian bangsa Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Apalagi dengan kenaikan BBM baru-baru ini yang menambah terpuruknya bangsa Indonesia. Tampaknya slogan "Satu komputer untuk setiap anak" akan menjadi angan-angan belaka. Ah, mudah-mudahan saya salah.Intel, Wimax, dan AcehIntel yang selama ini kita kenal sebagai pembuat prosesor komputer. Pada kesempatan pameran di WSIS menampilkan teknologi wireless WiMAX secara cukup menyolok dan transparan sekali. Tampaknya Intel cukup serius untuk merambah ke dunia telekomunikasi berbasis komputer masa mendatang, terutama WiMAX.Mungkin kita semua juga mengetahui bahwa Intel tidak sekedar OMDO (Omong Doang), tapi juga bergerak secara real di lapangan untuk memasang berbagai field trial WiMAX di seluruh dunia. Salah satunya di Indonesia, di Aceh sebagai infrastruktur telekomunikasi alternatif paska Tsunami yang diinstalasi dan dioperasikan oleh rekan-rekan dari Yayasan Air Putih.Masyarakat FuturistikJepang merupakan paviliun yang cukup besar, cukup serius dengan banyak orang memakai jas dan dasi di dalamnya. Jepang mendorong sebuah ide "Ubiquitous Network Society". Ide dasar sebuah Ubiquitous Network Society adalah sebuah masyarakat yang tersambung secara terus menerus ke jaringan. Di manapun anda berada, apapun yang anda gunakan, apapun yang anda kerjakan, semua tersambung ke jaringan.Salah satu alat yang ditampilkan pada kesempatan WSIS adalah sebuah sepeda motor yang tersambung ke jaringan. Sepeda motor dilengkapi dengan banyak sensor, peralatan komputer, maupun peralatan telekomunikasi menjadi sangat pandai dan pintar. Mungkin menarik untuk sekali-sekali hidup di alam serba terkait.Walaupun pengalaman saya selama lebaran tinggal di kampung di dekat simpang gunung juga merupakan pengalaman yang amat sangat menarik. Kampung saya di Padang Panjang dikelilingi sawah, gunung dan pemandangan alam yang sangat indah, dan selama dua minggu itu saya lebaran tanpa telepon dan akses Internet.Huawei memasang paviliun yang cukup besar di muka dekat tempat masuk peserta WSIS. Konstruksi paviliun Huawei tampak sangat futuristik sekali. Huawei menawarkan kehidupan masa mendatang yang diperkaya oleh komunikasi dan kecerdasan dari komputer. Banyak peralatan canggih yang digunakan untuk membantu dan memudahkan kehidupan kita.Cafe Wifi Ala DenmarkBeberapa paviliun lebih banyak berkonsentrasi untuk memberikan informasi dan penjelasan tentang mereka kepada masyarakat banyak. Salah satu diantaranya paviliun masyarakat Internet, seperti ICANN dan ISOC. ICANN adalah lembaga tertinggi di Intenet yang mengatur masalah domain. ISOC adalah organisasi masyarakat Internet di dunia. Tidak ada atraksi, tidak ada sesuatu yang wah dari paviliun ini.Konsep paviliun yang terus terang lebih bersahabat untuk saya adalah paviliun Denmark. Konsep paviliun Denmark adalah konsep Cafe. Jika kita dapat ke paviliun Denmark maka kita dapat duduk-duduk di tawari kopi atau teh, maupun dapat makan-makanan yang ada di situ seperti coklat dan lain-lain. Yang lebih menarik lagi, askses WiFi gratis tersedia di paviliun Denmark. Lengkaplah sudah bagi kita yang ingin santai di paviliun Denmark.Dengan metoda santai tersebut, kita dapat dengan santai berdiskusi dan menjadi sahabat mereka. Terus terang, saya sering mangkal di paviliun Denmark dan mempunyai beberapa teman dekat di sana. Hal ini terjadi sejak WSIS 2003 yang lalu di Jenewa, Swiss.(Keterangan Foto: Komputer Rp 1 juta di paviliun UNDP (atas), cafe wifi di paviliun Denmark (tengah), dan motor jaringan di paviliun Jepang (bawah))
(wsh/)