Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ini Tikus Paling Mematikan di Dunia, Racunnya Bisa Bunuh Gajah

Ini Tikus Paling Mematikan di Dunia, Racunnya Bisa Bunuh Gajah


Fino Yurio Kristo - detikInet

Tikus berbisa
Foto: BBC
Jakarta -

Ada tikus yang racunnya cukup mematikan untuk membunuh seekor gajah. Ia adalah Lophiomys imhausi, yang juga dikenal sebagai tikus berjambul, tikus bersurai, dan tikus berjambul Afrika.

Tikus berjambul adalah satu-satunya hewan pengerat beracun yang diketahui dan satu-satunya mamalia yang diketahui menyerap dan menyimpan racun tanaman sebagai mekanisme pertahanan.

Tikus berjambul dewasa tumbuh hingga 360 mm dan 530 mm dari kepala hingga ujung ekor, dengan wujud seperti sigung kecil berbulu lebat. Surai dari bulu-bulu bergaris hitam dan putih yang membentang di sepanjang tubuh dari kepala hingga pangkal ekor jadi asal muasal namanya. Saat terancam, surai berdiri tegak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tujuannya adalah untuk menampilkan warna peringatan. Kedua adalah untuk memperlihatkan bulu-bulu khusus tersebut, yang mengandung cukup racun untuk membuat hewan yang nekat menggigitnya menjadi sangat sakit atau bahkan mati keracunan.

Habitat tikus berjambul

Spesies ini hidup di hutan, sabana, dan semak belukar. Mereka menyukai medan berbatu dan bersarang di batang pohon berongga, lubang, dan cekungan. Populasinya telah diamati di Somalia, Etiopia, Sudan, Republik Persatuan Tanzania, Kenya, Jibuti, dan Eritrea.

ADVERTISEMENT

Tikus berjambul tampaknya sebagian besar hidup menyendiri dan terkadang hidup dalam kelompok keluarga kecil yang terdiri dari jantan, betina, dan anak-anaknya. Tikus berjambul betina jumlah anaknya sedikit, satu hingga tiga ekor dalam satu kelahiran.

Terlepas dari reputasinya yang menakutkan, makanannya sebagian besar terdiri dari tumbuhan seperti daun dan buah, meskipun mereka juga diketahui memakan daging, serangga, dan akar.

Mengapa begitu mematikan?

Dikutip detikINET dari BBC, ia satu-satunya hewan pengerat yang diketahui menggunakan racun dari spesies lain sebagai mekanisme pertahanan dan melakukannya melalui beberapa adaptasi evolusi luar biasa.

Lophiomys imhausi memakan kulit pohon panah beracun Afrika, Acokanthera schimperi yang mengandung acovenoside A dan ouabain, bahan kimia perangsang jantung yang disebut cardenolide. Dalam dosis kecil, bahan ini digunakan untuk medis tapi dosis lebih besar efeknya menghancurkan: muntah, kejang, kesulitan bernapas, bahkan henti jantung.

Ia menjilati bulu-bulunya, menempelkan air liur yang telah bercampur glikosida kardiotonik dari pohon itu. Bulu-bulu ini strukturnya sangat khusus sehingga cocok untuk menyerap cairan, menyebarkannya di bagian dalamnya, dan menyimpannya.

Jika calon pemangsa menyerang, bulu yang terekspos akan melepas senyawa beracun ini ke mulut pemangsa dan sangat cepat masuk ke aliran darahnya.

Anak panah yang dilumuri racun cardenolide yang sama mampu menumbangkan gajah dewasa, jadi potensinya sangat mematikan. Namun tujuan tikus itu sejatinya membuat para pemangsa sangat sakit sehingga belajar bahwa ia tidak boleh dijadikan mangsa di masa depan.

Namun korban tewas tetap terjadi. Anjing yang menyerang tikus berjambul diketahui dapat mati keracunan. Sementara yang selamat menunjukkan respons ketakutan pada setiap pertemuan di masa mendatang.

Di sisi lain, sains belum mengetahui mekanisme yang memungkinkannya mengonsumsi racun tanpa ikut binasa. Mungkin bakteri di lambungnya termasuk jenis bakteri yang dapat mengurai cardenolide dengan aman.




(fyk/fyk)
TAGS






Hide Ads