KONSULTASI CYBERLIFE
Dewi Widya Ningrum
Dewi Widya Ningrum
Dewi Widya Ningrum adalah seorang mantan jurnalis, ia pernah bekerja di beberapa media online besar di Indonesia sejak awal 2005 hingga akhir 2015. Sejak 2008, Dewi yang suka travelling ini juga aktif membantu kampanye program Internet Sehat yang digagas oleh ICT Watch.

Dewi dapat dihubungi via email dew.ningrum[at]gmail.com atau blogwww.dewningrum.com
Jumat, 15 Apr 2016 13:42 WIB

KlinikINET

Bahaya Cyberbullying: Depresi Hingga Bunuh Diri

Konsultan: Dewi Widya Ningrum - detikInet
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Saya prihatin dengan kasus bullying yang menimpa siswi asal Medan, Sonya Depari. Banyak yang menghujatnya di dunia maya. Meski sikapnya tak sopan, harusnya dia tidak dipojokkan seperti itu. Bagaimana agar aksi ini tidak berlanjut? [Irma]

Jawaban:

Kasus cyberbullying memang tidak bisa dianggap remeh begitu saja. Aksi olok-olok dan mempermalukan orang lain di dunia maya ini bisa berakibat fatal bagi korbannya. Dampaknya menyerang psikis, mulai dari perasaan malu, merasa tertekan hingga depresi.

Inilah yang dialami Sonya Depari, siswi SMU asal Medan yang di-bully habis-habisan di media sosial, pasca video dirinya yang berdebat dengan polwan dan mengaku anak Jenderal BNN Arman Depari tersebar luas di internet.

Sonya bisa dibilang merupakan korban cyberbullying. Terlepas dari sikapnya yang tidak sopan, kita tidak boleh memperlakukannya seperti itu di dunia maya. Kehidupan sehari-hari korban jadi terganggu karena cyberbullying ini. Korban jadi enggan ke sekolah, merasa terpuruk dan malu, dikucilkan dan mengurung diri.

Apalagi dengan maraknya pengguna perangkat mobile dan internet, aksi cyberbullying dapat dilakukan berulang dan berkelanjutan. Korban akan semakin merasa terintimidasi dan ditindas secara online.

Jika aksi cyberbullying dibiarkan terjadi terus-menerus, hal ini bisa membuat seseorang nekat melakukan tindakan tragis seperti menyakiti diri sendiri bahkan bunuh diri. Karena mereka tidak kuat menghadapi penghinaan dan intimidasi.

Kasus cyberbullying yang berujung bunuh diri sudah banyak terjadi. Seperti yang dialami Amanda Todd. Ia telah di-bully selama 3 tahun di dunia maya. Remaja asal Kanada ini kemudian ditemukan tewas di rumahnya setelah memposting video di YouTube tentang tindakan bully yang dialaminya.

Data dari Bullying UK National Survey 2014 menunjukkan, 91% dari orang-orang yang melaporkan cyberbullying mengatakan bahwa mereka tidak mengambil tindakan apapun atas apa yang mereka alami. Ini tentu dapat membuat korban menjadi merasa tidak dipercaya, rentan dan menyalahkan diri sendiri.

Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk korban cyberbullying?

- Ajak korban bicara. Sarankan ia untuk berbicara dengan orang yang ia percaya tentang apa yang ia alami dan rasakan. Sebab jika korban diam saja dan memendam semuanya sendirian, ini bisa berbahaya.

- Jika berbicara tidak memungkinkan, minta dia untuk menulis lewat surat.

- Agar korban tidak semakin depresi dan merasa makin diintimidasi di media sosial, sarankan agar ia tidak membuka media sosial untuk sementara waktu. Kalau perlu tutup akunnya.

- Jangan hanya jadi penonton. Agar aksi ini tidak semakin berkembang, kita bisa melaporkan aksi cyberbullying ini ke pihak media sosial terkait dengan mengklik tombol "Report Abuse". Jika kita membiarkan, apalagi ikut menyebarkan, ini sama saja kita menjadi pelaku bully.

- Jika semua upaya yang sudah dilakukan untuk menghentikan aksi cyberbullying tidak membuahkan hasil, jangan ragu untuk meminta bantuan ke pihak berwenang. (jsn/fyk)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed