3 Aturan Ketat Terkait Video Game di China, Mana Tahan...

3 Aturan Ketat Terkait Video Game di China, Mana Tahan...

Panji Saputro - detikInet
Selasa, 21 Sep 2021 16:16 WIB
Ilustrasi main game mobile
Beberapa Aturan Ketat Terkait Video Game di China (Foto: Shutterstock)
Jakarta -

China, sebagai negara yang memiliki game developer dan publisher populer, ternyata memiliki aturan sangat ketat terkait video game itu sendiri. Memangnya apa saja? Mari simak penjelasan singkatnya.

Bila berkaitan dengan video game, sering kali dilanda ketegangan bila hubungannya dengan Negeri Tirai Bambu. Ini semakin sulit, setelah protes Hong Kong dan Taiwan yang pecah pada tahun 2019.

Perlakuan mereka terhadap sektor hiburan kerap menjadi banyak sorotan. Terutama akhir-akhir ini, dengan beberapa batasan waktu bermain game online bagi anak-anak dan penyensoran tipe karakter, seperti dihimpun detikINET dari berbagai sumber, Selasa (21/9/2021).

1. Memberantas karakter vulgar

Badan hiburan pemerintah China pun, telah melakukan langkah untuk menyensor karakter yang tidak sopan dan vulgar. Salah satu pembatasan terbarunya, yakni pelarangan hadirnya karakter 'Effeminate' atau laki-laki yang bersifat seperti perempuan.

Melalui situs The State Council The People's Republic of China, pihak berwenang memerintahkan perusahaan dan platform, untuk memperketat pemeriksaan konten game mereka.

"Konten cabul dan kekerasan serta yang menumbuhkan kecenderungan tidak sehat, seperti pemujaan uang dan kejantanan, harus dihapus," tulis English.GOV.CN (9/9).

2. Pembatasan jam main game

Lalu tatanan baru yang diresmikan, yaitu pembatasan waktu bermain game bagi para remaja. Prakteknya, para anak muda ini, tidak dapat memainkan game online lebih dari tiga jam selama seminggu.

Mereka hanya diperkenankan menikmati hiburan tersebut, mulai dari jam 8.00 dan 21.00, pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Tujuannya untuk mengatasi masalah kecanduan game pada anak-anak.

Target utamanya memberantas strategi mendapatkan cuan secara ganas dari berbagai game online. Hal ini menjadi masuk akal, ketika anak-anak memang dapat menghabiskan ribuan dolar untuk model bisnis transaksi mikro yang tersemat di dalam game.

3. Pembatasan lisensi game

Aturan lainnya ialah membatasi jumlah lisensi, yang mereka keluarkan untuk game online. Bahkan untuk bulan Agustus lalu, belum ada game baru yang mendapat izin dari pemerintah China.

Seperti yang dialami Steam untuk peluncuran koleksi game mereka, dimana sempat terhambat beberapa waktu. Akan tetapi, 53 game pun akhirnya disetujui.

Sebenarnya merapatnya game dari Valve ke China, juga ditentang oleh pengembang lokal. Karena mereka khawatir etalase penjualannya berdampak negatif pada game indie.

Siapa yang Mengontrol Sensor Game di China?

National Radio and Television Administration (NRTA), menjadi salah satu badan pemerintah yang bertanggung jawab mengelola sebagian besar konten media di Tiongkok. Bagi calon pengembang, yang ingin merilis game di negara tersebut, harus melewati aturan ketat mereka dan bahkan bisa ditolak karena berbagai alasan.

Ambil contoh, konten yang rilis menggunakan bahasa Mandarin, tidak boleh merusak 'persatuan Tionghoa' atau memberikan 'contoh buruk' bagi pemirsanya. Seperti yang dialami film Blockbuster dari MCU, yakni Shang-Chi, yang tidak akan dirilis di China karena komentar bintang Simi Liu.

Aktor populer tersebut, menggambarkan kehidupan orang tuanya di China sebagai dunia ketiga, di mana banyak orang kelaparan dan menderita. Al hasil, ia dikecam netizen negara asalnya dan terancam di boikot.



Simak Video "Rekaman CCTV Saat China Diguncang Gempa M 6"
[Gambas:Video 20detik]
(hps/fay)