3 Cara Menciptakan Ekosistem Gaming yang Positif

3 Cara Menciptakan Ekosistem Gaming yang Positif

Irna Gayatri - Content Writer RRQ - detikInet
Selasa, 29 Des 2020 21:22 WIB
Ilustrasi Esports
Ilustrasi esports (Unsplash/RRQ)
Jakarta -

Seiring dengan semakin populernya esports, ekosistem gaming pun jadi semakin besar. Sayangnya, lingkungan esports dan gaming masih penuh dengan komentar-komentar toxic yang berisi hujatan dan hinaan. Hal ini tentu menunjukkan betapa para gamers pada umumnya dan penggemar esports khususnya masih belum dewasa. Kalau mereka adalah penggemar yang dewasa, tentu ekosistem gaming dan esports di Indonesia akan lebih positif.

Nah, bagaimana kalau kita ingin menciptakan lingkungan gaming yang positif? Simak caranya di sini.

1. Pahami bahwa selera setiap orang berbeda

Salah satu komentar yang paling sering ditemukan di konten gaming adalah komentar yang membandingkan game yang satu dengan game yang lain. Sekadar membandingkan tidak masalah, namun sampai menghina dan menjelek-jelekkan game yang bahkan tidak dimainkan adalah tindakan yang kekanak-kanakan dan tentunya toxic. Yang perlu dipahami adalah selera orang berbeda. Game yang menurut kalian tidak menarik bisa jadi sangat menarik bagi gamers lain.

Ketika game tersebut bahkan dipertandingkan dalam esports, berarti komunitas game tersebut telah cukup besar sehingga dapat menjaring pemain profesional dan menawarkan turnamen dengan nilai hadiah yang besar. Jadi, tak perlu membanding-bandingkan game karena selera setiap orang berbeda-beda.

2. Pahami bahwa menjadi pro player adalah pekerjaan berat

Komentar toxic lainnya yang sering muncul di ekosistem gaming dan esports adalah komentar tentang individu pro player. Sering kali komentar toxic tersebut menyasar para pro player, khususnya tim yang kalah. Bahkan, tim pemenang pun tak ketinggalan dikomentari dengan negatif oleh pendukung tim yang kalah.

Hal ini harus segera dihentikan karena komentar negatif tersebut bisa berpengaruh terhadap psikologis pro player. Menjadi pro player itu adalah pekerjaan berat. Bukan hanya bertanding, mereka juga harus membuat konten video, menyapa penggemar lewat live streaming, latihan keras, dan tentunya meraih kemenangan. Namun, yang namanya kompetisi pasti ada menang dan kalah. Jadi, kekalahan adalah hal yang wajar karena pemenang setiap kompetisi hanya satu.

Dalam penelitian di International Journal of Gaming and Computer-Mediated Simulations tentang 'Identifying Stressors and Coping Strategies of Elite Esports Competitor' oleh Matthew J Smith dan kawan-kawan pada 2019, pro player esports disebut memiliki tingkat stres yang sama dengan atlet konvensional. Penelitian menyebutkan ada 51 faktor pemicu stres yang dialami pro player, antara lain terkait masalah komunikasi dengan rekan satu tim hingga rasa khawatir saat tampil di depan live audience. Itu baru satu masalah. Jadi, jangan ditambah dengan komentar negatif di media sosial mereka.

Untuk mencapai hal ini, diperlukan juga peran para pro player untuk menyosialisasikan kepada para penggemarnya agar selalu berkata baik dan tidak menghina orang lain. Menghargai orang lain tidaklah sulit dan gratis!

3. Tetap sportif mendukung tim favorit

Terakhir, tetaplah jaga sportivitas kalian saat mendukung tim favorit yang bertanding. Dukunglah dengan semangat positif dan jangan menghina tim lawan yang tidak kalian dukung. Jadi, kurangi komentar yang tidak perlu tentang tim lawan, kecuali komentar kalian berisi analisis tentang pertandingan yang sedang atau sudah berjalan. Jadi, sampaikan dukungan dengan positif dan jangan menghina tim lain, ya!

*Artikel ini merupakan kerja sama antara detikINET dengan Team RRQ.



Simak Video "Belum Optimal, Bos RRQ Dorong Pemerintah Benahi Ekosistem eSports"
[Gambas:Video 20detik]
(fay/fay)