Jumat, 05 Feb 2016 08:45 WIB

Keluarga Pemberontak Angola Tuntut Call of Duty Rp 15 Miliar

Muhammad Alif Goenawan - detikInet
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Gugatan terhadap produsen video game kembali terjadi. Kali ini sebuah gugatan dilayangkan kepada Activision Blizzard, pembesut game tembak-tembakan Call of Duty.

Adapun sang penggugat tak lain merupakan keluarga dari pemimpin pemberontakan di Angola, Jonas Savimbi. Tiga anak Savimbi ini menggugat Activision Blizzard lantaran publisher game asal Amerika Serikat itu merepresentasikan Jonas Savimbi sebagai seorang barbar di Call of Duty: Black Ops 2.

Dalam game tersebut, pemimpin pemberontak Angola yang tewas di tahun 2002 silam itu terlihat memimpin pasukan sambil meneriakkan kata-kata "death to the MPLA".

MPLA sendiri merupakan sebuah organisasi liberal yang didirikan sejak kemerdekaan Angola dari Portugal di tahun 1975. Melihat ayahnya dikisahkan demikian di dalam game, sang anak Cheya Savimbi pun menolak dengan keras.



"Melihat ia membunuh orang, memotong tangan seseorang...itu bukan ayah," tutur Cheya seperti dikutip detikINET dari BBC, Jumat (5/2/2106).

Atas keberatannya itu, keluarga Savimbi menggugat Activision Blizzard senilai USD 1,1 juta atau sekitar Rp 15 miliar. Permintaan itu jelas ditolak yang bersangkutan karena tuntutan ini dinilai hanya mengincar uang besar semata.

Saat ini ketiga anak Savimbi tinggal di kawasan Paris dan membawa Activision cabang Prancis ke pengadilan di Nanterre. Menurut pengacara Activision, Etienne Kowalski, pihaknya tidak setuju dengan apa yang dituntut oleh Savimbi, karena menurutnya mantan pemberontak tidak pantas disebut sebagai pahlawan. (mag/rou)