Xiaomi 17 telah dirilis di Indonesia sejak akhir Februari 2026 yang lalu, tapi saya baru berkesempatan untuk mencoba ponsel Xiaomi 17 ini untuk traveling ke Jepang di bulan April. Xiaomi 17 ini sepertinya agak "tenggelam" di antara Xiaomi 17 Ultra dan Leitzphone yang diumumkan dalam waktu yang sama.
Sebagai ponsel yang termasuk seri flagship juga, harusnya speknya juga bagus, Xiaomi 17 menggunakan prosesor terbaru Snapdragon 8 gen 5 Elite , dan teknologi kamera dan lensa terbaru hasil kerjasama Leica dan Xiaomi.
Xiaomi 17 agak berbeda daripada ponsel mainstream masa kini, ukurannya lebih compact, layarnya 6.3 inci, sedikit lebih compact daripada ponsel masa kini yang biasanya 6.7-6.9 inci. Ukurannya juga relatif tipis, jadi mudah masukin dan keluarin dari kantong saat membutuhkannya. Makai ponsel ini dengan satu tangan juga oke.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Xiaomi 17. Foto: Enche Tjin |
Xiaomi 17. Foto: Enche Tjin |
Saya traveling ke Jepang saat musim Sakura sudah hampir berakhir, tapi di beberapa tempat terutama di dataran tinggi seperti kota Takayama, bunga sakura masih banyak. Disana saya melihat Xiaomi 17 yang saya bawa, yang warnanya dinamakan Alpine Pink, mirip dengan warna bunga sakura di Jepang.
Spek kamera dan lensa Xiaomi 17
Sebagai ponsel flagship yang lengkap fiturnya, kamera dan lensanya memiliki kualitas yang bagus, meski tidak sebesar seri Ultra karena keterbatasan ruang. Image sensor kamera utama Xiaomi 17 mirip dengan Xiaomi 15, yaitu type 1/1.3 inch, setingkat di bawah type 1 inci, dan ada yang sedikit berubah yaitu teknologi sensornya ditingkatkan dari Light Fusion 900 ke 950.
Lensanya juga sama, lensa Leica Summilux, ~23mm dengan bukaan yang sangat besar, f/1.67. Dengan kombinasi ini foto di kondisi gelap gak masalah. Dua modul kamera dan lensanya sama, telefotonya ~60mm f/2 dan ultrawide ekuivalen 17mm f/2.2.
Xiaomi 17. Foto: Enche Tjin |
Yang beda adalah kamera selfienya, yang sekarang diupgrade menjadi 50MP dari 32MP, dan sudah mendukung autofokus. Semua kameranya sudah 50MP, jadi cenderung detail dan tajam di berbagai kondisi.
Modul ultra lebarnya 0.7x zoom atau ekuivalen 17mm banyak saya gunakan untuk foto-foto pemandangan yang luas, arsitektur atau subjek yang besar sekali. Kualitas gambar yang dihasilkannya bagus dan kadang sulit membedakan dengan lensa lainnya, tapi karena saya sering menggunakan Xiaomi Ultra, terkadang merasa 17mm atau 0.7x agak sedikit kurang lebar jadi perlu mundur satu dua langkah.
Xiaomi 17. Foto: Enche Tjin |
Xiaomi 17. Foto: Enche Tjin |
Crop dari foto di atas. Foto: Enche Tjin |
Lensa utamanya yang 1x atau ~23mm tentu yang paling bagus dan detail. Lensa wide ini cocok untuk berbagai kondisi, termasuk pemandangan, kalau saya tidak perlu pemandangan yang sangat luas, 23mm ini sudah cukup untuk berbagai situasi.
Xiaomi 17 Foto: Enche Tjin |
Xiaomi 17. Foto: Enche Tjin |
Xiaomi 17. Foto: Enche Tjin |
Lensa telenya, yang 2.6x atau ~60mm favorit saya, dan sering saya gunakan untuk foto satu subjek, detail atau subjek jauh. Pengalaman saya menggunakan Xiaomi 15T Pro, lensa telenya, yang ~115mm sering terasa kepanjangan, atau sempit sudutnya, kalau Xiaomi 15T itu kurang panjang. 60mm cukup, meskipun favorit saya sekitar 70mm atau 3x zoom yang terdapat di Xiaomi Ultra.
Xiaomi 17. Foto: Enche Tjin |
Xiaomi 17. Foto: Enche Tjin |
Modul telefoto ini sekaligus bisa buat foto close-up atau foto subjek kecil dari jarak dekat, karena bisa fokus sampai 10 cm. Jadi lensa ini multifungsi dan signifikan. Sayangnya image sensor lensa tele ini relatif kecil dibandingkan dengan kamera utamanya, jadi di kondisi kurang cahaya detailnya menurun, lalu kalau subjek jauh sekali, kualitas gambar juga bisa terkendala karena mengandalkan digital zoom/crop tentunya akan mengurangi detail. Untuk Xiaomi 17 ini kualitas gambar yang masih bagus dan bisa diterima yaitu zoom 5x yaitu ekuivalen 120mm.
Xiaomi 17. Foto: Enche Tjin |
Crop dari foto di atas. Foto: Enche Tjin |
Bermacam filter sinematik untuk membangun mood/suasana
Saat menghadapi kondisi pencahayaan yang biasa-biasa saja, atau kondisi cuaca mendung, atau subjeknya agak unik, kita bisa coba filter-filter yang ada, di bagian filter ada filter khas Leica, tapi juga banyak dari Xiaomi yang sebagian inspirasinya dari warna-warna sinematik.
Dengan mencoba mengganti filter ini suasana foto jadi sangat berbeda. Misalnya ada filter Scarlet, yang mengubah warna hijau daun jadi kekuningan dan langit biru jadi kehijauan, nah ini bisa bikin suasana musim semi menjadi musim gugur. Kalau senang warna hijau yang segar, mungkin bisa pilih filter Monsoon.
Kiri: Filter Scarlet, Kanan: Filter Monsoon. Foto: Enche Tjin |
Filter Leica BW Natural. Foto: Enche Tjin |
Kesimpulan pengalaman dengan Xiaomi 17
Pengalaman saya menggunakan ponsel Xiaomi 17 cukup menyenangkan, ponselnya compact, mudah digunakan, dan pilihan lensanya juga oke, dari ultra lebar ke telefoto. Meskipun dalam hati saya berharap lensanya bisa lebih sedikit lebar dan tele, misalnya lensa ~15mm dan 70mm atau 3x zoom.
Yang bikin nyaman pakai ponsel ini tentunya adalah baterainya besar, bahkan lebih besar kapasitasnya dari yang Ultra, lebih hemat waktu dan traveling seharian dan juga cepat ngechargenya, mendukung sampai 100 Watt.
Menurut saya, Xiaomi 17 ini teman yang asyik bagi teman-teman yang suka traveling, yang butuh ponsel yang bertenaga dan awet untuk dipakai sehari-hari. Teman-teman fotografer yang biasanya pakai kamera DSLR/mirrorless yang menginginkan kamera ponsel yang mumpuni untuk menemani juga asyik. Kualitas gambarnya bakalan sesuai harapan.
Hasil kamera selfie, cukup luas dan detail. Foto: Enche Tjin |
Xiaomi 17. Foto: Enche Tjin |
Xiaomi 17 telah hadir di Indonesia sejak tanggal 28 Februari dan dibandrol dengan harga Rp 14.999.000 untuk storage 256GB dan Rp 15.999.000 untuk versi 512GB., dan tersedia dalam beberapa warna: Venture Green (Hijau), Alpine Pink (merah muda), Ice blue (biru) dan Black (hitam).
(Enche Tjin/ask)


















