Hanya selang beberapa bulan setelah Cloudflare mengungkapkan bahwa lalu lintas bot secara resmi telah melampaui manusia secara online, raksasa infrastruktur jaringan dan keamanan siber tersebut kini memberikan proyeksi mengenai wajah internet dalam lima tahun ke depan. Hasilnya, dominasi lalu lintas non-manusia diperkirakan bisa melonjak hingga 1.000 kali lipat lebih tinggi dibandingkan lalu lintas manusia.
Peringatan ini disampaikan oleh Chief Financial Officer Cloudflare, Thomas Seifert, dalam paparan laporan pendapatan kuartal kedua perusahaan pada hari Kamis pekan lalu.
"Jika tren saat ini terus berlanjut, kami memperkirakan dalam lima tahun ke depan, lalu lintas non-manusia akan menjadi 1.000 kali lipat lebih banyak daripada lalu lintas manusia," jelas Seifert, seperti dikutip detikINET dari Techspot, Selasa (11/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan bahwa eksistensi manusia di internet nantinya hanya akan terlihat seperti sebuah kesalahan pembulatan matematis (rounding error). Hal ini diproyeksikan terjadi bukan karena lalu lintas manusia menurun, melainkan karena laju pertumbuhan lalu lintas bot yang sangat masif.
Seifert memberikan catatan bahwa prediksinya mungkin saja meleset, sebagaimana yang pernah dialami oleh CEO sekaligus pendiri Cloudflare, Matthew Prince. Sebelumnya, Prince memperkirakan bahwa lalu lintas bot baru akan melampaui manusia pada akhir tahun 2027, namun kenyataannya tonggak sejarah tersebut sudah tercapai lebih cepat pada awal tahun ini.
Dorongan masif dari agen AI
Akselerasi mendadak pada lalu lintas non-manusia ini diyakini didorong oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, khususnya agen AI (agentic AI). Sistem agen AI ini berperilaku sangat berbeda dari web crawler tradisional maupun bot penipuan. Aktivitas mereka bisa sangat menyerupai pola penjelajahan pengguna manusia, tetapi terjadi dalam kecepatan mesin dan dapat diulang pada skala yang masif.
Sebuah prompt sederhana bahkan diklaim dapat memicu ribuan permintaan data secara instan. Prince mengilustrasikan perbedaan ini menggunakan skenario belanja online, misalnya seseorang yang mencari kamera mungkin hanya akan memeriksa lima situs pengecer, sementara agen AI dapat menelusuri hingga 5.000 situs untuk membandingkan data.
Jika perilaku tersebut dikalikan dengan jutaan pengguna yang meminta asisten AI untuk membandingkan produk, mencari tiket pesawat, meneliti topik, hingga merangkum artikel, maka prediksi bahwa kehadiran manusia secara online akan menyusut menjadi angka marjinal sangat masuk akal untuk terjadi.

