Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Teknologi Pendidikan Belum Cukup, 1,9 Juta Lulusan SMA Gagal Kuliah

Teknologi Pendidikan Belum Cukup, 1,9 Juta Lulusan SMA Gagal Kuliah


Agus Tri Haryanto - detikInet

Smiling girl student wear wireless headphone study online with skype teacher, happy young woman learn language listen lecture watch webinar write notes look at laptop sit in cafe, distance education
Foto: Getty Images/Sopaphan Romphongoen
Jakarta -

Perkembangan teknologi pendidikan belum sepenuhnya mampu meningkatkan akses ke perguruan tinggi. Data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menunjukkan sekitar 1,9 juta lulusan sekolah menengah di Indonesia tidak melanjutkan kuliah setiap tahun, sehingga dibutuhkan pendampingan yang melengkapi pembelajaran digital.

Menjawab tantangan tersebut, BISA Project yang diinisiasi Salam Setara bersama Kitabisa mengembangkan model pendampingan yang memadukan beasiswa, pembelajaran digital, bimbingan belajar, mentoring, dan pengembangan karakter bagi pelajar dari keluarga prasejahtera.

Direktur Eksekutif Salam Setara Ahmad Mujahid mengatakan perluasan akses pendidikan tidak cukup hanya melalui bantuan biaya pendidikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Ketika masih ada anak muda yang gagal melanjutkan pendidikan karena keterbatasan akses, maka itu menjadi panggilan bagi kita semua untuk menghadirkan solusi. Melalui BISA Project, kami ingin memastikan semakin banyak generasi muda memiliki kesempatan yang setara untuk meraih pendidikan tinggi," ujarnya dikutip dari keterangan tertulis.

Sejak diluncurkan pada 2024, program tersebut telah mendampingi 623 pelajar dari 26 provinsi. Dari jumlah tersebut, 540 peserta berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dengan 84 persen diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan separuhnya berhasil masuk ke 20 perguruan tinggi terbaik di Indonesia versi Webometrics.

ADVERTISEMENT

Sementara pada Batch 3 tahun 2026, sebanyak 401 dari 495 peserta telah diterima di berbagai perguruan tinggi melalui beragam jalur seleksi.

Program ini tidak hanya memberikan bantuan pendidikan, tapi menyediakan bimbingan belajar, mentoring dalam kelompok kecil, konsultasi akademik, pengembangan karakter, hingga pembelajaran digital. Model ini dinilai membantu peserta siap menghadapi seleksi perguruan tinggi sekaligus beradaptasi dengan kehidupan kampus.

Pendampingan Jadi Faktor Penentu

Keberhasilan BISA Project menunjukkan bahwa pendampingan yang berkelanjutan dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang pelajar melanjutkan pendidikan tinggi, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Salah satu penerima manfaat, Uji Sandi, mengaku sempat pesimistis dapat melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya mengikuti bimbingan belajar.

Melalui program tersebut, ia memperoleh pendampingan akademik hingga akhirnya diterima di Program Studi Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB).

"Kita memang tidak bisa memilih terlahir dari latar belakang seperti apa, tetapi kita selalu bisa memilih untuk berhenti atau terus melangkah," kata Sandi.

Perluas Akses untuk Masyarakat

Tahun ini, BISA Project juga memperluas jangkauan program melalui BISA Future Fest 2026, yang untuk pertama kalinya dibuka bagi masyarakat umum. Sebelumnya, berbagai sesi pengembangan diri hanya dapat diikuti peserta program.

Kegiatan yang berlangsung pada 24-27 Juli 2026 di Jakarta tersebut menghadirkan talkshow, workshop, dan sesi pengembangan diri bersama sejumlah tokoh, seperti Pandji Pragiwaksono, Andovi da Lopez, serta praktisi dan pegiat pendidikan.

Forum tersebut juga mempertemukan pemerintah, lembaga filantropi, dunia pendidikan, dan sektor swasta untuk membahas penguatan kolaborasi dalam memperluas akses pendidikan.

Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Arif Jamali Muis, menegaskan bahwa peningkatan akses pendidikan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

"Pendidikan adalah hak setiap warga negara, dan untuk mewujudkannya mutlak diperlukan kolaborasi dari banyak pihak," ungkapnya.



(agt/agt)






Hide Ads