Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Perang Diramal Berkecamuk di Dasar Laut

Perang Diramal Berkecamuk di Dasar Laut


Fino Yurio Kristo - detikInet

People prepare a Greyshark underwater drone or AUV (autonomous underwater vehicle), before a trial in the Baltic Sea, at the marina in Damp, Germany, November 21, 2025. REUTERS/Fabian Bimmer
Ilustrasi drone laut. Foto: REUTERS/Fabian Bimmer
Jakarta -

Peperangan masa depan juga diprediksi melanda dasar laut. Negara maupun korporasi sama-sama menggelontorkan banyak dana untuk teknologi baru yang dirancang khusus bagi penggunaan bawah laut, seiring meningkatnya kekhawatiran tentang kerentanan infrastruktur penting seperti kabel konektivitas dan pipa energi di sana.

Itu terjadi di tengah memuncaknya kekhawatiran peperangan hibrida, istilah yang dapat mencakup serangan siber, sabotase energi, disinformasi, dan tekanan ekonomi, baik disertai metode militer konvensional maupun tidak.

"Perubahan ancaman inilah yang membawa hal tersebut ke permukaan," kata Katja Bego, peneliti senior di Chatham House, kepada CNBC yang dikutip detikINET.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Pada saat yang sama, kemajuan pesat AI, drone, dan teknologi otonom memungkinkan pendekatan baru terhadap pengawasan bawah laut.

Mulai kendaraan bawah laut otonom hingga sensor pada kabel bawah laut, pemerintah dan aliansi militer menjajaki cara memantau infrastruktur yang menopang ekonomi global ini dengan lebih baik. "Seluruh ekonomi kita dibangun di atas infrastruktur ini," kata Bego.

September 2022, beberapa bulan setelah Rusia melancarkan invasi ke Ukraina, rentetan ledakan menghancurkan pipa gas Nord Stream di bawah Laut Baltik. Penyelidik menyimpulkan pipa untuk menyalurkan gas alam dari Rusia ke Jerman tersebut disabotase.

Insiden tersebut, bersama kerusakan infrastruktur bawah laut di area seperti Arktik dan dekat Taiwan, memusatkan perhatian pemerintah pada berbagai kerentanan yang kurang mendapat perhatian pada dekade-dekade setelah Perang Dingin.

"Hal ini telah terabaikan dalam waktu yang cukup lama, jadi ada banyak ketertinggalan yang harus dikejar," tuturnya.

Lebih dari 1,5 juta kilometer kabel komunikasi bawah laut beroperasi secara global hingga awal 2026 menurut TeleGeography, perusahaan riset telekomunikasi.

Selain kabel telekomunikasi dan pipa minyak serta gas, jaringan kabel listrik bawah laut juga mengalirkan listrik dari ladang pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai ke daratan.

Perusahaan-perusahaan pertahanan pun mencium peluang. Pembuat kapal asal Italia, Fincantieri, mengumumkan rencana mengakuisisi saham mayoritas di empat perusahaan senilai sekitar 600 juta euro, guna memperluas kemampuan drone bawah laut dan permukaan, survei kelautan, dan komunikasi bawah laut.

Fincantieri tidak sendirian. Grup pertahanan besar termasuk Thales dari Prancis, mendirikan bisnis yang mencakup sonar, peperangan anti kapal selam, pendeteksian ranjau, dan sistem bawah laut otonom.

Drone bawah laut

Perusahaan teknologi pertahanan di Jerman, Euroatlas, juga mengincar bisnis pertahanan dasar laut. Mereka mengembangkan kendaraan bawah laut otonom GrayShark yang dapat meluncur ke area yang ditugaskan dan menjalankan misi tanpa kontrol manusia terus menerus.

Alat ini dirancang menghindari rintangan dan mengikuti instruksi yang ditentukan sebelumnya ketika menemui sesuatu yang tak terduga. Saat memeriksa pipa misalnya, GrayShark dapat mengidentifikasi objek yang menyerupai ranjau, melaporkannya, dan menunggu operator memutuskan apakah ia harus menyelidikinya lebih lanjut.

Verineia Codrean selaku Chief strategy perusahaan itu membayangkan masa depan armada kendaraan otonom yang terus berpatroli di area strategis dasar laut dan akan berkumpul ketika salah satunya mendeteksi hal mencurigakan.

"Hampir mustahil menjangkau seluruh lautan. Anda hanya perlu mengetahui area mana yang lebih penting untuk pemantauan konstan," cetusnya.

Codrean juga membahas munculnya misi anti kendaraan bawah laut otonom (AUV), yang bertujuan untuk mendeteksi, melacak, dan mengidentifikasi kendaraan bawah laut otonom dan nirawak yang dioperasikan negara-negara lain.

"Karena pihak lain juga membangun kendaraan bawah laut otonom, Anda harus bisa mengklasifikasikan mana yang berasal dari negara yang bersahabat dengan NATO atau sekutu, dan mana yang bukan," kata Codrean. Hal tersebut meningkatkan prospek lebih banyaknya aktivitas mesin-lawan-mesin di bawah permukaan laut.

Namun Codrean tidak memperkirakan kendaraan otonom akan sepenuhnya menggantikan kapal selam dan kapal perang konvensional. "Yang pasti, akan ada peningkatan signifikan aktivitas drone melawan drone sampai Anda membutuhkan aset berawak untuk turut turun tangan," katanya.

Ia memperkirakan angkatan laut akan semakin memadukan sistem berawak dan otonom, membuat interoperabilitas keduanya makin penting.



(fyk/afr)






Hide Ads