Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Emas Melimpah Ditemukan di Dasar Laut Pasifik, Terbentuk dari Air Panas

Emas Melimpah Ditemukan di Dasar Laut Pasifik, Terbentuk dari Air Panas


Rachmatunnisa - detikInet

Ilustrasi bijih emas
Ilustrasi bijih emas. Foto: via IFL Science
Jakarta -

Emas dan perak dalam jumlah tinggi ditemukan jauh di bawah permukaan laut Pasifik barat. Yang menarik, logam-logam berharga tersebut bukan sekadar 'terkubur' di dasar laut, tetapi terbentuk melalui proses geologi yang melibatkan air yang sangat panas dari dalam Bumi.

Temuan itu diperoleh ilmuwan China dalam ekspedisi penelitian gabungan sejumlah institusi akademik. Mereka menemukan area hidrotermal bawah laut yang mengandung bijih dengan konsentrasi emas dan perak sangat tinggi.

Mengutip laporan South China Morning Post, kandungan emas pada sampel tertentu mencapai 15,4 gram per ton bijih, sementara kadar perak tertingginya mencapai 1,27 kilogram per ton. Nilai tersebut dilaporkan lebih tinggi dibandingkan rata-rata kandungan pada sejumlah deposit mineral di daratan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Namun, temuan ini bukan berarti China baru saja menemukan 'gunung emas' yang bisa langsung dikeruk. Justru proses terbentuknya deposit tersebut yang menarik secara ilmiah. Deposit itu berada di kawasan yang disebut medan hidrotermal.

Di tempat seperti ini, air laut dapat meresap jauh ke dalam kerak Bumi. Ketika mencapai batuan yang sangat panas, air tersebut dipanaskan hingga temperatur ekstrem dan bereaksi dengan batuan di sekitarnya.

Air panas itu kemudian membawa berbagai unsur dan mineral dari batuan sebelum kembali naik melalui retakan di dasar laut. Ketika cairan yang sangat panas dan kaya mineral tersebut menyembur keluar dan bertemu air laut yang suhunya jauh lebih rendah, perubahan temperatur secara mendadak membuat berbagai unsur terlarut mengendap.

Logam kemudian bereaksi dengan sulfur dan membentuk mineral sulfida. Endapan inilah yang dikenal sebagai sulfida hidrotermal. Sebagian besar kandungannya berupa mineral yang mengandung tembaga, seng, dan timbal, tetapi proses yang sama juga dapat menghasilkan emas dan perak.

Dengan kata lain, 'tambang emas' di dasar laut tersebut pada dasarnya adalah hasil dari sistem geologi yang masih aktif. Ekspedisi China dilakukan menggunakan kapal riset Xiang Yang Hong 10. Kapal tersebut berangkat dari Shenzhen pada 10 Agustus dan melakukan ekspedisi selama 18 hari.

Dalam perjalanan tersebut, tim melakukan tujuh kali penyelaman laut dalam. Penelitian sebelumnya di kawasan tersebut telah menemukan puluhan ventilasi hidrotermal dengan kedalaman sekitar 700-1.500 meter. Temperatur cairan yang keluar dari beberapa ventilasi bahkan dilaporkan melebihi 315 derajat Celsius.

Dari survei lanjutan, para ilmuwan kemudian mengidentifikasi area hidrotermal baru yang disebut sangat besar. Deposit mineralnya terdiri dari tiga gundukan sulfida berbentuk kerucut.

Analisis laboratorium awal menunjukkan bijih tersebut didominasi mineral bernilai ekonomi, termasuk kalkopirit, pirit, dan sfalerit. Kandungan emas dan peraknya yang tinggi membuat area tersebut menarik bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga untuk memahami bagaimana sistem hidrotermal bawah laut bekerja.

"Area pertambangan dasar laut yang luas ini memiliki nilai eksploitasi yang sangat tinggi," Song Shiji, wakil dekan Institute for Ocean Engineering di Tsinghua University sekaligus salah satu ilmuwan utama proyek tersebut.

Pernyataan tersebut merujuk pada potensi deposit yang ditemukan tim, bukan berarti kegiatan penambangan komersial sudah dilakukan. Lokasi tepat deposit tersebut tidak diungkapkan. Laporan menyebutnya berada di sebuah cekungan busur belakang di Pasifik barat dan berada dalam zona ekonomi eksklusif China.

Ada sisi lain dari penemuan ini yang tak kalah menarik. Medan hidrotermal merupakan salah satu lingkungan paling ekstrem di Bumi. Suhu dan tekanan di laut dalam sangat berbeda dari kondisi di permukaan, sementara cahaya Matahari nyaris tidak mencapai wilayah tersebut.

Namun, kehidupan tetap dapat berkembang di sekitarnya. Song mengatakan kawasan hidrotermal aktif itu menjadi habitat bagi komunitas organisme yang telah beradaptasi dengan lingkungan laut dalam.

Keberadaan mereka memberikan kesempatan bagi ilmuwan untuk mempelajari bagaimana kehidupan dapat bertahan dalam kondisi ekstrem. Di sekitar ventilasi hidrotermal, kehidupan bahkan tidak bergantung langsung pada energi Matahari seperti ekosistem di permukaan.

Mikroorganisme dapat memanfaatkan energi dari reaksi kimia yang berlangsung di lingkungan tersebut. Karena itu, medan hidrotermal juga menjadi salah satu lokasi penting dalam penelitian tentang asal-usul dan kemampuan adaptasi kehidupan.

Penemuan tersebut menunjukkan bahwa dasar laut masih menyimpan banyak proses geologi yang belum sepenuhnya dipahami. Emas dan perak yang ditemukan bukan muncul secara tiba-tiba. Keduanya merupakan bagian dari siklus geologi yang melibatkan air laut, panas dari dalam Bumi, batuan, sulfur, dan aktivitas tektonik.

Bagi ilmuwan, deposit seperti ini menjadi semacam laboratorium alami untuk mempelajari hubungan antara aktivitas geologi dan kehidupan di laut dalam. Sementara dari sisi ekonomi, kandungan logam yang tinggi membuatnya berpotensi menarik untuk eksplorasi sumber daya laut.

Namun, menemukan deposit dan menambangnya secara komersial merupakan hal yang bertolak belakan. Kedalaman laut, teknologi, biaya, serta dampak terhadap ekosistem laut dalam menjadi persoalan tersendiri. Karena itu, untuk saat ini, penemuan tersebut lebih tepat dilihat sebagai temuan geologi bernilai tinggi ketimbang sebuah tambang emas bawah laut yang siap beroperasi.



(rns/afr)




Hide Ads