×
Ad

Ratusan Pakar Matematika Dunia Lawan Janji Manis AI

Fino Yurio Kristo - detikInet
Senin, 08 Jun 2026 09:15 WIB
Ilustrasi matematika. Foto: Getty Images/Artico
Jakarta -

Awal tahun ini, pemuda usia 23 tahun tanpa pelatihan matematika mengklaim memakai ChatGPT untuk memecahkan salah satu soal menantang dari matematikawan Hungaria, Paul Erdos. Kemudian bulan lalu, akademisi terkejut ketika OpenAI mengklaim AI-nya berhasil mematahkan konjektur "jarak satuan" berusia 80 tahun, yang juga dirumuskan Erdos.

"Ini menandai pertama kalinya AI secara otonom memecahkan masalah terbuka terkemuka yang menjadi pusat di bidang matematika," sebut OpenAI, dikutip detikINET dari Futurism. Namun apakah model AI sungguh dapat memecahkan masalah yang puluhan tahun menghantui matematikawan masih jadi perdebatan.

Dalam teguran publik yang mungkin terkeras, deklarasi yang ditandatangani sekitar 150 ahli matematika memperingatkan pemerintah tak mempercayai sensasi terkait kemampuan AI memecahkan masalah matematika kompleks.

Dalam pernyataan yang menyertai 11 halaman "Deklarasi Leiden tentang AI dan Matematika", Wakil Presiden International Mathematical Union, Ulrike Tillmann, berpendapat AI menimbulkan berbagai pertanyaan yang tidak boleh dibiarkan tanpa pengkajian.

"Masa depan penelitian matematika harus dipandu penilaian manusia, praktik adil dan transparan, serta nilai-nilai bersama dari komunitas matematika global," ujar Tillmann.

"Saat ini terdapat insentif komersial kuat di pihak industri teknologi untuk melebih-lebihkan kemampuan produk mereka," bunyi deklarasi tersebut, yang menyarankan pembuat kebijakan berkonsultasi dengan para ahli, termasuk matematikawan, dalam mengambil keputusan.

Lebih buruk lagi, model AI mungkin menghasilkan solusi meyakinkan namun sebenarnya tidak. "Teknik otomatisasi saat ini dapat menghasilkan argumen yang terdengar masuk akal namun tak dapat diandalkan (atau bahkan salah) yang sulit dibedakan dari pembuktian matematika yang benar," kata Kepala Ilmu Komputer Universitas Oxford, Leslie Ann Goldberg.

Deklarasi tersebut juga menyoroti posisi rentan banyak akademisi. Mendapat pendanaan baru sangat sulit sementara minat terhadap AI terus melonjak, yang sering kali memaksa mereka mendukung teknologi tersebut dengan cara apa pun.

Dokumen tersebut juga mencatat ada banyak alasan lain untuk menyerukan regulasi yang melampaui bidang matematika, seperti keterlibatan industri AI dalam militer dan pengawasan massal, pengembangan teknologi yang mempromosikan misinformasi dan merusak demokrasi, serta merusak lingkungan.

Tak hanya itu, model AI dilatih menggunakan data yang sering tanpa persetujuan penulis asli. "Matematikawan yang tak pernah berniat berkontribusi pada pengembangan AI mendapati karya mereka digunakan untuk tujuan ini tanpa persetujuan. Saya pikir itu adalah situasi yang sangat mengkhawatirkan," kata antropolog AI Universitas Leiden, Rodrigo Ochigame.



Simak Video "Video Luhut Beberkan Skema Baru Penyaluran Bansos"

(fyk/afr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork