Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Skor Matematika & Membaca Siswa AS Anjlok, Medsos Dituding Biang Kerok

Skor Matematika & Membaca Siswa AS Anjlok, Medsos Dituding Biang Kerok


Adi Fida Rahman - detikInet

Ilustrasi 40 Contoh Soal Matematika dan Kunci Jawaban, Sederhana tapi Menjebak.
Skor Matematika & Membaca Siswa AS Anjlok, Medsos Dituding Biang Kerok Foto: Getty Images/iStockphoto/XiXinXing
Jakarta -

Kemampuan matematika dan membaca siswa di Amerika Serikat terus mengalami penurunan dalam lebih dari satu dekade terakhir. Peneliti dari Stanford University menyoroti media sosial sebagai salah satu faktor yang diduga berkontribusi besar terhadap krisis pendidikan tersebut.

Laporan terbaru yang dikutip Time mengungkap bahwa skor membaca siswa AS pada 2025 turun sekitar 0,6 tingkat kelas dibandingkan 2015. Sementara itu, skor matematika turun sekitar 0,4 tingkat kelas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Artinya, kemampuan membaca siswa kini tertinggal sekitar 60% dari satu tahun ajaran penuh dibanding satu dekade lalu, sedangkan matematika tertinggal sekitar 40%.

"Skor tes lebih rendah daripada satu dekade lalu di distrik sekolah di seluruh AS," tulis laporan tersebut.

Peneliti Stanford menegaskan bahwa kemerosotan prestasi akademik sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum pandemi COVID-19. Tren penurunan disebut mulai terlihat sejak 2013, mengakhiri dua dekade peningkatan kemampuan siswa di AS.

Sean Reardon, Profesor Kemiskinan dan Ketimpangan di Stanford Graduate School of Education, menjadi salah satu peneliti utama dalam studi ini. Menurut laporan tersebut, pandemi hanya memperparah masalah yang sudah ada sebelumnya.

"Pandemi adalah longsoran lumpur yang menyusul tujuh tahun erosi prestasi siswa," kata Profesor Tom Kane dari Harvard University yang ikut menulis laporan tersebut.

Para peneliti menyebut periode tersebut sebagai "learning recession" atau resesi belajar, yakni kondisi ketika kemampuan akademik siswa terus menurun secara konsisten dalam jangka panjang.

Ilustrasi media sosialIlustrasi media sosial Foto: Getty Images/iStockphoto/12963734

Media Sosial Jadi Sorotan

Salah satu hal yang paling disorot dalam penelitian ini adalah ledakan penggunaan media sosial di kalangan remaja yang terjadi beriringan dengan penurunan skor akademik.

Tom Kane menilai korelasi waktunya terlalu mencolok untuk diabaikan. Ia mengatakan penggunaan media sosial yang semakin intens terjadi hampir bersamaan dengan merosotnya kemampuan membaca siswa.

"Media sosial berada di inti penurunan prestasi membaca," ujar Kane.

Menurutnya, penggunaan media sosial paling berat justru terjadi pada kelompok siswa dengan prestasi akademik terendah.

Data asesmen nasional AS menunjukkan skor membaca siswa kelas 8 kini berada di titik terendah sejak 1990. Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di kalangan akademisi dan pembuat kebijakan pendidikan.

Selain media sosial, peneliti juga menyinggung perubahan sistem pendidikan di AS yang mulai mengurangi pendekatan evaluasi berbasis tes standar.

Kebijakan era No Child Left Behind yang sebelumnya menekankan akuntabilitas sekolah lewat tes perlahan dibongkar dalam dekade terakhir. Sebagian peneliti menduga perubahan tersebut ikut melemahkan fokus sekolah terhadap capaian akademik dasar seperti membaca dan matematika.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa faktor penyebab penurunan ini sangat kompleks dan tidak bisa disederhanakan hanya pada satu aspek.

Absensi Kronik Makin Parah

Masalah lain yang memperburuk kondisi pendidikan AS adalah tingginya angka absensi siswa.

Pada tahun ajaran 2024-2025, sekitar 23% siswa dikategorikan mengalami absensi kronik. Angka ini memang turun dibanding masa pandemi, tetapi masih jauh lebih tinggi daripada kondisi pra-pandemi yang berada di kisaran 15%.

Absensi kronik biasanya merujuk pada siswa yang terlalu sering tidak masuk sekolah sehingga memengaruhi proses belajar mereka secara signifikan.

Namun di tengah situasi yang suram, beberapa negara bagian dan distrik sekolah mulai menunjukkan tanda perbaikan.

Ilustrasi Literasi DigitalIlustrasi Literasi Digital Foto: Shutterstock

Sejumlah sekolah mulai menerapkan metode pengajaran berbasis fonik atau phonics-based instruction untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa. Metode ini menekankan hubungan antara huruf dan bunyi dalam proses belajar membaca.

Selain itu, sekolah juga mulai memberikan dukungan tambahan bagi siswa dengan kemampuan membaca rendah.

Untuk matematika, hampir seluruh negara bagian dalam analisis Stanford mencatat peningkatan skor sejak 2022 hingga 2025, meski belum cukup untuk mengembalikan capaian ke level sebelum penurunan besar terjadi.

Fenomena ini juga menjadi peringatan penting bagi banyak negara lain, termasuk Indonesia, yang menghadapi tantangan serupa dalam literasi, numerasi, dan penggunaan media sosial di kalangan pelajar.

Penetrasi media sosial yang semakin tinggi pada anak dan remaja dinilai perlu diimbangi dengan penguatan fondasi pendidikan dasar serta pengawasan penggunaan teknologi digital.

Peneliti berharap data Stanford ini dapat mendorong evaluasi ulang terhadap kebijakan pendidikan, regulasi media sosial untuk anak-anak, hingga strategi pemulihan pembelajaran pasca-pandemi.




(afr/afr)








Hide Ads