China membuat terobosan di dunia teknologi drone. Kali ini, tim peneliti merilis perangkat lunak (software) pengendali penerbangan pertama di dunia yang dirancang khusus untuk drone berbahan bambu.
Mengutip laporan South China Morning Post (SCMP), sistem ini dikembangkan oleh peneliti dari Northwestern Polytechnical University untuk mendukung pengembangan drone murah dan ramah lingkungan.
Selama ini, penggunaan bambu sebagai material drone menghadapi tantangan besar. Struktur bambu memiliki karakteristik berbeda dibanding bahan komposit seperti serat karbon, terutama karena menghasilkan getaran frekuensi rendah yang sulit dikendalikan sistem konvensional.
"Sistem ini mengatasi hambatan utama dalam desain drone berkelanjutan," tulis tim peneliti dalam publikasi mereka.
Untuk mengatasi masalah tersebut, tim mengembangkan sistem kontrol khusus yang disesuaikan dengan karakteristik bambu. Mereka merancang ulang algoritma penerbangan agar mampu meredam getaran dan menjaga stabilitas drone saat terbang.
Salah satu peningkatan signifikan adalah pada respons sistem. Latensi kontrol yang sebelumnya berada di kisaran 15-20 milidetik berhasil ditekan menjadi hanya sekitar 8-10 milidetik, membuat drone lebih responsif dan stabil.
Tak hanya itu, software ini juga dibuat open source alias terbuka untuk publik dan gratis. Artinya, pengembang lain bisa menggunakannya, memodifikasi, dan menyesuaikannya dengan berbagai desain drone berbahan bambu tanpa harus membangun sistem dari nol.
Langkah ini diharapkan bisa mempercepat adopsi drone ramah lingkungan di berbagai sektor, mulai dari penelitian hingga industri. Peneliti juga melengkapi sistem ini dengan perangkat keras khusus, termasuk chip industri dan sistem sensor ganda untuk meningkatkan akurasi navigasi.
Dengan pendekatan ini, drone berbahan bambu yang sebelumnya dianggap kurang stabil kini bisa memiliki performa yang mendekati drone modern berbahan komposit. Inovasi ini menjadi bagian dari tren baru dalam industri teknologi, di mana material alami seperti bambu mulai dilirik sebagai alternatif yang lebih murah dan berkelanjutan.
Selain lebih ramah lingkungan, bambu juga memiliki keunggulan dari sisi biaya dan ketersediaan, terutama di negara-negara Asia. Ke depan, teknologi ini berpotensi digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti pemantauan lingkungan, kehutanan, hingga pendidikan.
Dengan hadirnya software gratis ini, hambatan teknis dalam pengembangan drone berbahan alami bisa semakin berkurang, serta membuka jalan bagi inovasi yang lebih hijau di dunia penerbangan tanpa awak. Terobosan ini menunjukkan bahwa masa depan teknologi tidak selalu bergantung pada material canggih, tetapi juga bisa datang dari bahan alami yang dipadukan dengan kecerdasan sistem modern.
Simak Video "Video Karyawan Terra Drone Diduga Coba Pecahkan Kaca Tapi Gagal Saat Kebakaran"
(rns/rns)