Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Drone Dianggap 'Senjata Pemusnah Massal' di Piala Dunia 2026

Drone Dianggap 'Senjata Pemusnah Massal' di Piala Dunia 2026


Fino Yurio Kristo - detikInet

GUADALAJARA, MEXICO - JUNE 11: General view inside the stadium as Seung-Ho Paik #8 of Korea Republic controls the ball during the FIFA World Cup 2026 Group A match between Korea Republic and Czechia at Guadalajara Stadium on June 11, 2026 in Guadalajara, Mexico. (Photo by Michael Regan - FIFA/FIFA via Getty Images)
Foto: Michael Regan - FIFA/FIFA via Getty Images
Jakarta -

Para penggemar yang mendengar suara dengungan drone di atas stadion mungkin menganggapnya gangguan biasa, tapi penegak hukum memandang perangkat terbang tersebut potensi senjata pemusnah massal.

Dengan diselenggarakannya Piala Dunia, kebijakan tanpa toleransi diterapkan untuk drone yang terbang di atas atau dekat stadion selama 78 pertandingan di 11 kota di Amerika Serikat.

"Perang Ukraina menjadi arena uji coba dunia nyata teknologi drone dan jika ada satu ancaman yang membuat saya tak bisa tidur nyenyak di malam hari, itu adalah dari drone," ujar Komisaris Departemen Kepolisian New York (NYPD), Jessica Tisch yang dikutip detikINET dari Associated Press.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah federal menyita puluhan drone sejak dimulainya Piala Dunia 2026, menurut statistik Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS). Sejak Piala Dunia dimulai 11 Juni hingga 16 Juni, pihak berwenang melaporkan 145 pelanggaran wilayah udara di delapan lokasi penyelenggaraan.

Desember lalu, Kongres memberi lampu hijau kepada penegak hukum negara bagian dan lokal untuk mengambil alih kendali drone yang mengancam atau menembak jatuh jika diperlukan, meskipun opsi pertama adalah melumpuhkannya secara elektronik dan mendaratkannya dengan aman.

ADVERTISEMENT

Administrasi Penerbangan Federal (FAA) akan membatasi wilayah udara di sekitar dan atas stadion selama pertandingan. Pelanggar dapat menghadapi denda hingga USD 100.000, drone disita, bahkan dipidana jika terbang dalam radius sekitar 4,8 km dari area pertandingan.

Pihak militer juga mengembangkan laser anti drone, seperti yang digunakan di sepanjang perbatasan Meksiko awal tahun ini, serta berbagai sistem lain untuk menembak drone. Namun, FBI tidak berencana melakukan hal tersebut selama Piala Dunia karena bahaya jatuhnya puing-puing drone.

"Jika drone dicegat dan tidak lagi bisa terbang, drone itu pasti akan jatuh. Dan seperti yang sering kami katakan, apa pun yang Anda lakukan, Anda tidak dapat mengubah hukum gravitasi," kata pakar keamanan nasional Hal Kempfer.

Pemerintah berinvestasi besar-besaran dalam berbagai sistem yang memungkinkan petugas mengambil alih kendali drone mencurigakan dan mendaratkannya dengan aman atau mengacak sinyalnya.

FBI mengambil pendekatan tanpa toleransi untuk melindungi wilayah udara di sekitar lokasi Piala Dunia. Devin Kowalski, asisten direktur FBI, mengatakan semua drone diperlakukan seolah-olah bisa menjadi ancaman nyata.

"Ketika drone masuk ke area, kami menanganinya seolah itu adalah sesuatu yang dapat melukai orang. Kami agresif melacak posisi operatornya dan melakukan investigasi logis untuk menentukan sifat situasi tersebut, serta meminta pertanggungjawaban orang itu," ujar Kowalski.

Derek Reisfield, mantan presiden perusahaan penyedia teknologi anti drone, menilai drone di tangan yang salah sangat menakutkan dan ada banyak pihak ingin mencelakai AS. "Kita harus berasumsi ada seseorang di Iran menghabiskan tiap hari memikirkan bagaimana dapat menyerang AS di wilayah kita sendiri," kata Reisfield.

Beberapa teknologi memungkinkan pihak berwenang mendeteksi drone dari jarak hingga 40 kilometer yang akan memberi waktu untuk mitigasi ancaman. Namun, ada kemungkinan seseorang menyelundupkan drone dekat stadion dan meluncurkannya dari jarak kurang dari 1,6 kilometer, sehingga menyisakan sedikit waktu untuk bertindak.

Selain itu, sistem untuk mengacak sinyal atau mengambil alih kendali drone mungkin tidak efektif jika drone diprogram untuk menabrak stadion penuh penonton sambil membawa bahan peledak, atau jika dikendalikan melalui jalur serat optik.

Taktik perang yang mungkin menimbulkan ancaman terbesar adalah kawanan drone menyerang bersamaan. Bahkan dengan pertahanan terbaik, beberapa drone mungkin dapat lolos ke target, seperti yang dilakukan Iran dengan sejumlah besar drone Shahed. Militer AS memiliki berbagai macam senjata untuk menjatuhkan drone, tapi Iran masih mampu mengenai target.



(fyk/fay)






Hide Ads