Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
AI Dipakai di Film 'Pelangi di Mars', Begini Cara Kerjanya

AI Dipakai di Film 'Pelangi di Mars', Begini Cara Kerjanya


Adi Fida Rahman - detikInet

Film Pelangi di Mars
Penggarapan film 'Pelangi di Mars' Pakai AI untuk Motion Capture Film Foto: dok. Mahakarya Pictures
Jakarta -

Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai banyak digunakan dalam industri kreatif, termasuk dalam produksi film. Hal ini juga diterapkan dalam pembuatan film sci-fi Indonesia Pelangi di Mars yang disutradarai oleh Upie Guava.

Namun, jangan bayangkan seperti video AI instan yang dibuat lewat perintah teks di Gemini, ChatGPT, atau generator video serupa.

Dalam proyek ini, AI digunakan sebagai alat produksi untuk motion capture (mocap), membantu menangkap gerakan aktor secara langsung di lokasi syuting tanpa kostum sensor mahal yang biasanya dipakai dalam studio mocap profesional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Pemanfaatan AI

Dalam proses produksinya, tim film ini memanfaatkan teknologi AI untuk membantu proses motion capture, yaitu teknik yang digunakan untuk menangkap gerakan aktor dan menerjemahkannya menjadi animasi karakter digital.

Biasanya proses motion capture dilakukan dengan menggunakan kostum khusus yang dilengkapi berbagai sensor. Peralatan tersebut tergolong mahal dan membutuhkan sistem studio yang cukup kompleks.

Upie Guava - SutradaraUpie Guava - Sutradara Foto: Adi FR/detikINET

Awalnya tim produksi Pelangi di Mars juga berencana menggunakan pendekatan tersebut. Namun setelah mempertimbangkan berbagai faktor, mereka memilih pendekatan yang berbeda.

Upie menjelaskan bahwa timnya kemudian mengembangkan sistem berbasis AI yang mampu menangkap gerakan aktor hanya melalui kamera. Dengan metode ini, aktor dapat melakukan gerakan secara langsung tanpa perlu mengenakan kostum motion capture yang rumit.

Teknologi AI kemudian menganalisis gerakan tersebut dan menerjemahkannya menjadi data animasi yang dapat digunakan untuk menggerakkan karakter digital. Menurut Upie, pendekatan ini memberikan keuntungan besar dalam proses penyutradaraan.

"Saya bisa langsung mengarahkan aktor di lokasi, bukan hanya animator," ujarnya kepada detikINET.

Batasan AI

Dalam produksi animasi tradisional, sutradara biasanya bekerja dengan animator yang kemudian menerjemahkan gerakan karakter secara manual. Dengan motion capture berbasis AI, aktor dapat langsung memainkan karakter sehingga ekspresi dan gerakan terasa lebih natural.

Selain itu, teknologi ini juga membantu mempercepat proses produksi. Banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu lama kini dapat dilakukan lebih cepat karena AI membantu mengotomatisasi proses teknis tertentu.

Meski begitu, Upie menegaskan bahwa ia tidak melihat AI sebagai ancaman bagi para kreator.

Menurutnya, AI tetap hanyalah alat yang membantu proses kerja manusia. "AI hanyalah tools. Ia belajar dari referensi yang dibuat manusia," katanya.

Upie Guava - SutradaraUpie Guava - Sutradara Foto: Adi FR/detikINET

Ia juga memiliki batasan pribadi dalam penggunaan teknologi tersebut. Jika sebuah gambar atau video sepenuhnya dihasilkan oleh AI hanya melalui perintah teks, ia tidak merasa pantas mengklaimnya sebagai karya pribadinya.

Namun jika AI digunakan sebagai bagian dari proses kreatif yang lebih panjang, ia masih melihatnya sebagai bagian dari karya manusia.

Bagi Upie, teknologi seharusnya membantu membuka ruang eksplorasi baru bagi para kreator.

Dengan memanfaatkan AI secara tepat, proses produksi film dapat menjadi lebih fleksibel dan efisien tanpa menghilangkan peran manusia dalam proses kreatif.




(afr/afr)




Hide Ads