Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Iran Perang, Komoditas Lebih Penting dari Minyak Ini dalam Bahaya

Iran Perang, Komoditas Lebih Penting dari Minyak Ini dalam Bahaya


Aisyah Kamaliah - detikInet

Citra Satelit Perang AS-Iran
Citra Satelit Perang AS-Iran. Foto: Vantor via BBC
Jakarta -

Di tengah konflik Iran dan Israel-Amerika Serikat, ada satu komoditas yang bahkan jauh lebih vital dari minyak dan gas, namun terancam keberadaannya. Ketakutan akan langkanya hal yang satu ini menyebar di tengah masyarakat Timur Tengah.

"Pada akhirnya, kita berada di padang pasir," kata warga Uni Emirat Arab, sebut saja Sofia.

"Minyak dan gas mungkin menjadi jantung perekonomian, tetapi air adalah 'dasar kelangsungan hidup kita'," imbuhnya.Ya, komoditas dimaksud adalah air yang sangat vital bagi kehidupan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Seiring meningkatnya perang Iran, begitu pula ketakutannya. "Jika saya menempatkan diri saya pada posisi musuh, untuk menggunakan istilah yang lebih tepat... inilah yang akan saya targetkan, sumber daya kita yang paling berharga... Saya tidak pernah berpikir bahwa saya bisa berada dalam bahaya kekurangan air minum," ujarnya.

Bagi wilayah yang tinggal di daerah dekat teluk seperti negara-negara Arab, keberadaan air bersih layak minum menjadi kebutuhan penting. Mereka mengandalkan sistem desalinisasi untuk mengubah air laut menjadi air yang dapat dikonsumsi dengan aman.

Pada faktanya, pemerintah Bahrain telah mengumumkan bahwa drone Iran mengakibatkan kerusakan pada infrastruktur desalinisasi. Kendati demikian, kerusakan itu tidak berdampak pada suplai air.

Serangan itu terjadi setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi menuduh AS menyerang pabrik desalinasi di Pulau Qeshm, Iran, yang berdampak pada 30 desa. AS membantah keterlibatannya.

Terdapat ratusan pabrik desalinasi di Teluk yang memasok air minum bagi sekitar 100 juta orang. Meskipun Iran masih mendapatkan sebagian besar airnya dari sungai dan air tanah, negara-negara Teluk memiliki lebih sedikit sumber daya air tawar alami. Beberapa negara termasuk Kuwait, Oman, dan Bahrain, bergantung pada desalinasi untuk hampir seluruh air minum mereka.

'Kerajaan Air Laut'

Desalinasi mengubah air laut menjadi air minum dengan menghilangkan garam, mineral, dan kotoran. Caranya baik dengan memanaskannya atau mendorongnya melalui membran dengan tekanan tinggi. Ini merupakan proses yang mahal dan membutuhkan banyak energi.

Michael Christopher Low, director of the Middle East Center dari University of Utah mengatakan bahwa negara-negara Teluk telah menjadi 'kerajaan air asin'.

"Mereka adalah kekuatan super global dalam produksi air buatan manusia yang berbahan bakar fosil dari laut," kata pria yang sedang menulis buku tentang topik ini dengan judul yang sama.

Ketergantungan telah melonjak. Untuk Kuwait dan Oman, angkanya sekitar 90%, untuk Bahrain 85%, dan Arab Saudi sekitar 70%. Kota-kota besar di Teluk termasuk Abu Dhabi, Dubai, Doha, Kota Kuwait, dan Jeddah sekarang hampir sepenuhnya bergantung pada air hasil desalinasi.

"Perekonomian mereka, bahkan kelangsungan hidup jangka pendek penduduk mereka, sangat bergantung pada keamanan pabrik desalinasi ini," kata Nader Habibi, profesor ekonomi Timur Tengah di Brandeis University.

Namun, menyerang infrastruktur sipil yang vital bertentangan dengan hukum internasional. Melancarkan serangan terkoordinasi terhadap pabrik desalinasi akan menjadi eskalasi provokatif'.

Tetapi ada presedennya, kata David Michel, peneliti senior bidang keamanan air di Center for Strategic and International Studies (CSIS). Pada tahun 1991, selama Perang Teluk, Irak sengaja melepaskan ratusan juta barel minyak ke Teluk Persia, mencemari air yang digunakan oleh pabrik desalinasi di Teluk. Kuwait harus meminta bantuan Turki, Arab Saudi, dan negara lain untuk menyediakan ratusan truk tangki air dan truk lainnya untuk mengirimkan air kemasan.

Michel mengatakan dalam khusus dekade terakhir, terjadi erosi signifikan dalam norma-norma seputar penyerangan terhadap infrastruktur air. Rusia telah melancarkan lebih dari 100 serangan terhadap infrastruktur air Ukraina selama invasinya. Israel juga telah menghancurkan fasilitas air dan sanitasi di Gaza.

Karena itu, mungkin ketakutan Sofia untuk pasokan air layak minum di daerahnya menjadi suatu hal yang beralasan. Demikian melansir CNN.




(ask/ask)






Hide Ads