Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Jenderal Ukraina Ungkap Taktik untuk Rontokkan Drone Iran

Jenderal Ukraina Ungkap Taktik untuk Rontokkan Drone Iran


Fino Yurio Kristo - detikInet

Bunker drone Iran
Bunker drone Iran. Foto: NY Post
Jakarta -

Ukraina menawarkan untuk berbagi pelajaran berharga dari medan tempur mengenai drone Iran dengan negara di Timur Tengah yang kini menghadapi ancaman serupa. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan para negara itu termasuk Amerika Serikat sudah meminta bantuan ke pihaknya.

"Mitra kami berpaling kepada kami, kepada Ukraina, untuk minta bantuan dalam melindungi diri mereka dari Shahed dengan keahlian dan tindakan nyata," kata Volodymyr Zelensky.

Ukraina pertama kali mulai menghadapi ancaman drone Iran tahun 2022, ketika Rusia membelinya dari mitranya, Iran, lebih dari setahun setelah invasi ke negara tersebut. Hal ini disampaikan Mayjen Vadym Skibitskyi, wakil kepala intelijen pertahanan Ukraina. Penggunaan drone serang oleh Moskow melonjak tajam selama perang berlangsung dan mereka mulai memproduksinya sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Vadym pada tahap awal, Rusia meluncurkan sekitar 30 drone Shahed per bulan. Kini, mereka rutin menembakkan ratusan unit. "Jumlah UAV terbesar yang digunakan Rusia pada bulan Juli tahun lalu adalah 802, sangat besar" katanya. Pada beberapa malam, lebih dari 90 drone diluncurkan sekaligus dalam satu gelombang.

Ia merujuk salah satu contoh serangan di mana Rusia meluncurkan 94 drone Shahed. Pasukan Ukraina berhasil mencegat 84 dan 10 mencapai target. "Itu pengalaman praktis militer kami dalam mencegat Shahed. Kami punya keahlian mengetahui dari arah mana, kapan, pada jam berapa mereka meluncurkan Shahed, dan ke arah mana drone itu terbang," paparnya.

ADVERTISEMENT

Ia mengatakan pertahanan udara Ukraina pada intinya mengandalkan koordinasi berlapis, mulai dari tim darat bergerak, rudal antipesawat, hingga peperangan radio-elektronik, yang semuanya bekerja sama. "Sistem ini harus bekerja sebagai satu kesatuan yang kompleks, tidak hanya mengandalkan satu jenis saja. Semuanya bekerja bersama-sama," sebutnya dikutip detikINET dari NY Post.

Pengalaman inilah yang akan dibagikan Ukraina kepada para mitranya, yaitu melumpuhkan ancaman drone melalui tiga cara berbeda. Pertama dengan menggunakan drone pencegat yang meledak di udara di dekat Shahed yang datang, mengacaukannya dengan peperangan elektronik (jamming), atau menembak jatuh mereka dari langit.

"Situasi di Timur Tengah menunjukkan betapa sulitnya memberikan perlindungan 100 persen terhadap rudal dan drone 'Shahed'," kata Zelensky, mencatat bahwa negara-negara Teluk dengan sistem pertahanan udara yang lebih maju pun masih gagal mencegat setiap rudal balistik dan drone yang diluncurkan ke arah mereka.

Pesannya kepada Barat adalah untuk meningkatkan produksi sistem pertahanan. "Secara khusus, ini berarti membangun kapasitas produksi pertahanan udara yang memadai-baik untuk melawan drone maupun melawan rudal balistik," cetus Zelensky.

Vadym menekankan Ukraina tak menawarkan mengerahkan pasukan ke luar negeri, karena mereka masih harus menghadapi ancaman Rusia terhadap Kyiv. Mereka menawarkan untuk berbagi pelajaran yang telah diperoleh dari perang dengan Rusia.

Sebagai balasan atas jasa Ukraina, Zelensky tampaknya ingin mereka yang mendapat manfaat dari keahlian Ukraina menangkal drone, berhenti membantu Rusia menghindari sanksi dan meningkatkan tekanan pada Rusia untuk mengakhiri perangnya di Ukraina.




(fyk/rns)




Hide Ads