Hubungan antara CEO OpenAI Sam Altman dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan. Di tengah memanasnya persaingan industri kecerdasan buatan (AI) serta meningkatnya tensi geopolitik global, Altman secara terbuka membela kerja sama erat antara OpenAI dan pemerintah AS.
Pernyataan tersebut disampaikan Altman saat berbicara dalam Morgan Stanley Technology, Media & Telecom Conference di San Francisco, California. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa perusahaan teknologi, termasuk pengembang AI, seharusnya tidak menolak bekerja sama dengan pemerintah hanya karena perbedaan pandangan politik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Altman bahkan menyampaikan pandangan tegas bahwa pemerintah harus memiliki otoritas lebih besar dibandingkan perusahaan swasta, terutama dalam konteks teknologi strategis seperti kecerdasan buatan.
"Kita harus percaya pada proses demokrasi. Pemerintah seharusnya lebih berkuasa daripada perusahaan swasta," ujar Altman, seperti dikutip dari laporan Wall Street Journal.
Pernyataan tersebut muncul saat OpenAI baru saja menjalin kesepakatan dengan Departemen Pertahanan, hanya beberapa jam setelah rivalnya, Anthropic, menghadapi tekanan berat. Pentagon menuntut Anthropic mencabut guardrails pada model AI Claude yang melarang penggunaan untuk pengawasan massal domestik dan senjata otonom sepenuhnya.
CEO Anthropic Dario Amodei menolak tuntutan tersebut. Menteri Pertahanan Pete Hegseth kemudian menyatakan akan memasukkan Anthropic ke dalam daftar risiko rantai pasok (supply chain risk), langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap perusahaan Amerika.
Belum jelas apakah pemberitahuan resmi telah disampaikan kepada Anthropic. Namun, sumber anonim di pemerintahan mengatakan kepada Bloomberg bahwa langkah tersebut telah dilakukan. Anthropic belum memberikan tanggapan atas pertanyaan tersebut.
Sam Altman Foto: Getty Images |
Dulu Lawan, Kini Sekutu
Perubahan sikap Sam Altman terhadap Trump menjadi salah satu transformasi paling dramatis di industri teknologi.
2016: Altman menulis blog post yang menyebut Trump sebagai "ancaman terbesar bagi Amerika." Ia bahkan mengaku membayangkan Trump mencalonkan diri sebagai sesuatu yang "menakutkan."
2024-2026: Perlahan tapi pasti, Altman mulai mendekati lingkaran Trump. Puncaknya terjadi awal tahun ini ketika ia menyumbangkan USD 1 juta (sekitar Rp 16,3 miliar) untuk dana pelantikan Trump.
Bukan cuma soal duit. Altman juga mulai mengubah haluan politiknya. Februari lalu ia secara terbuka menyatakan bukan lagi seorang Demokrat, mengkritik partai tersebut karena dinilai terlalu "kiri."
Karyawan OpenAI Gerah
Kemesraan Altman-Trump ternyata tidak serta-merta diterima hangat di internal OpenAI.
Sekitar 500 karyawan dari OpenAI dan Google DeepMind menandatangani surat terbuka berjudul "We Will Not Be Divided" pekan lalu. Isinya? Solidaritas kepada Anthropic dan peringatan agar perusahaan mereka tidak tunduk buta pada tekanan pemerintah.
Seorang karyawan OpenAI yang enggan disebut namanya mengungkapkan kekecewaannya kepada media:
"Banyak dari kami bergabung dengan OpenAI karena perc pada misi mengembangkan AI untuk kemanusiaan. Sekarang kami malah membantu Pentagon? Ini bukan OpenAI yang dulu kami kenal."
Altman sendiri dalam memo internalnya mengakui waktu penandatanganan kontrak ini "tampak spekulatif dan ceroboh." Namun ia tetap membela keputusan tersebut sebagai langkah memastikan AI digunakan secara bertanggung jawab, bahkan di ranah militer.
(afr/afr)


