Perang di Timur Tengah terus berkecamuk, rudal-rudal serta drone beterbangan dan coba dicegat. Empat hari setelah perang dengan Iran meletus, setidaknya satu sekutu Amerika Serikat di Teluk mulai kehabisan amunisi pencegat krusial untuk bertahan dari serangan rudal dan drone Iran, menurut dua sumber pada CNN.
"Belum sampai tahap panik, tapi makin cepat amunisi itu tiba di sini, makin baik," kata sumber ke CNN, merujuk permintaan pemerintahnya pada AS untuk mendapatkan lebih banyak rudal pencegat.
Ini mencerminkan kekhawatiran di seluruh kawasan, termasuk di Israel, soal persediaan senjata untuk bertahan dari serangan Iran, terutama setelah Presiden Donald Trump melontarkan kemungkinan kampanye militer yang diperpanjang. Trump menyebut perang awalnya diproyeksi empat hingga lima minggu, namun ia menambahkan militer AS mampu melakukan jauh lebih lama dari itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum perang, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dan para pemimpin militer lainnya memperingatkan Trump bahwa kampanye militer berlarut-larut dapat berdampak pada persediaan senjata AS, terutama yang juga dikerahkan untuk Israel dan Ukraina.
AS dilaporkan menghabiskan banyak rudal berpemandu presisi jarak jauh beberapa hari terakhir. Setelah perang meluas, ini jadi permainan angka. Berapa banyak rudal pencegat yang dibutuhkan AS dan sekutu untuk terus menembak jatuh rudal Iran?
Menlu AS Marco Rubio mengatakan Iran memproduksi lebih dari 100 rudal setiap bulan. Bandingkan dengan enam atau tujuh pencegat AS yang dapat diproduksi sebulan. Maka, menghancurkan kapasitas rudal Iran adalah tujuan dari kampanye militer AS.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menanggapi kekhawatiran mengenai menipisnya persediaan senjata. Ia menulis persediaan amunisi AS pada tingkat menengah dan menengah atas saat ini belum pernah lebih tinggi atau lebih baik. Ia mengklaim AS punya pasokan senjata hampir tidak terbatas.
"Di tingkat paling atas, kita memiliki pasokan yang baik, namun belum berada di tempat yang kita inginkan," kata Trump. Ia kemudian mengkritik Presiden Joe Biden karena memberikan begitu banyak amunisi tingkat atas ke Ukraina.
Trump juga mengatakan kepada Politico bahwa perusahaan-perusahaan pertahanan bergerak cepat untuk membangun berbagai hal yang dibutuhkan. Mereka berada di bawah perintah darurat.
Adapun Laksamana Brad Cooper, kepala Komando Pusat AS, merilis pernyataan bahwa militer AS telah menyerang hampir 2.000 target Iran dengan lebih dari 2.000 amunisi. "Kami telah sangat menurunkan kemampuan pertahanan udara Iran dan menghancurkan ratusan rudal balistik, peluncur, dan drone Iran," tambah Cooper.
Ia mengakui militer Iran meluncurkan lebih dari 500 rudal balistik dan lebih dari 2.000 drone sebagai respons atas serangan AS dan Israel. "Kami melihat kemampuan Iran untuk menyerang kita dan mitra kita sedang menurun, sementara kekuatan tempur kita di sisi lain sedang dibangun," klaim Cooper.
Meski demikian, kekhawatiran mendesak saat ini terletak pada stok senjata pertahanan sekutu di Teluk, bukan AS. Pada awal perang, negara Teluk seperti Bahrain, Qatar, UEA, dan Arab Saudi mencoba menembak jatuh setiap rudal atau drone dari Iran. Namun, beberapa di antaranya tetap lolos.
Sebuah drone Iran menghantam gedung permukiman di Bahrain, memicu ledakan. Drone Iran lainnya merusak pusat data Amazon Web Services di UEA. Krisis amunisi mungkin akan memaksa perubahan taktik negara-negara Teluk. Mereka mungkin harus lebih selektif menentukan target.
(fyk/fay)