Meta: Metaverse Bakal Sama Penting Seperti Smartphone

Meta: Metaverse Bakal Sama Penting Seperti Smartphone

ADVERTISEMENT

Meta: Metaverse Bakal Sama Penting Seperti Smartphone

Anggoro Suryo - detikInet
Senin, 23 Jan 2023 15:00 WIB
A woman sitting at a desk works on virtual screens using Metas Quest Pro device, which the company is pitching as a productivity tool, in this undated handout picture. Meta/Handout via REUTERS    THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. REFILE - ADDING RESTRICTION NO RESALES. NO ARCHIVES.
Ilustrasi headset VR. Foto: Meta/Handout/Reuters
Jakarta -

Konsep metaverse masih tak banyak dimengerti oleh banyak orang, bahkan oleh orang yang tech savvy. Namun Meta meyakini kalau platform ini bakal sama pentingnya seperti sebuah smartphone.

Hal ini dikatakan oleh Chris Cox, chief product officer Meta, yang berbicara dalam diskusi panel di ajang World Economic Forum di Davos, Swiss. "Satu hari nanti computing platform akan sama pentingnya seperti sebuah smartphone di hidup kita," ujar Cox.

Ia pun menyebut Meta sudah berusaha membuat lini produk virtual reality selama hampir satu dekade, dan mereka berusaha membuat lini produk ini terjangkau, mudah diakses, dan impresif, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Sabtu (20/1/2023).

Ide besarnya adalah menggabungkan platform ini ke berbagai area, dari mulai pengalaman sosial, fitness, gaming, pengobatan, dan pengembangan obat. Meta juga mau menggunakan platform ini untuk mendesain mobil dan sepatu.

Keyakinan Meta terhadap metaverse ini tampaknya tak sejalan dengan pemikiran banyak orang. Misalnya ada analis yang memprediksi kalau semua bisnis metaverse akan tutup pada 2025.

Lalu dalam sebuah survei terhadap 10 ribu remaja pada 2022 lalu menghasilkan laporan yang menyebut setengah dari remaja yang disurvei itu tidak tertarik pada metaverse. Bahkan, beberapa pegawai Meta pun masih tak yakin terhadap kesuksesan metaverse itu.

Salah satu penanda kalau platform metaverse ini masa depannya masih dipertanyakan adalah penjualan perangkat VR yang menurun selama 2022. Ditambah lagi Meta ditinggal salah satu pejabat yang merupakan dedengkot VR pada Desember 2022 lalu, yaitu John Carmack.

Dalam diskusi panel itu, Cox juga kembali mengulang pandangan Mark Zuckerberg yang sudah sering diungkapkan, yaitu masalah terbesar metaverse adalah kekurangannya interoperabilitas dengan platform yang lain.

"Saya pikir internet adalah cara yang bagus untuk membayangkan metaverse, karena beberapa bagian dari internet sangat koheren satu dengan lainnya," jelas Cox.

Ambisi Meta untuk metaverse memang tak main-main. Sejak awal awal 2021 mereka sudah kehilangan USD 16 miliar untuk pengembangan metaverse. Namun Zuck bersikukuh kalau investasi ini baru akan terlihat hasilnya setidaknya dalam satu dekade ke depan.



Simak Video "Meta Setuju Bayar Rp 11 T Atas Skandal Cambridge Analytica"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/asj)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT