Bitcoin Ambles Bikin Program Nuklir Korut Amburadul?

ADVERTISEMENT

Bitcoin Ambles Bikin Program Nuklir Korut Amburadul?

Anggoro Suryo - detikInet
Kamis, 30 Jun 2022 06:50 WIB
Ilustrasi Bitcoin
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Nilai tukar mata uang kripto yang merosot drastis, termasuk bitcoin, mengancam pengembangan program nuklir di Korea Utara.

Korut beberapa waktu ke belakang dituding menimbun mata uang kripto hasil curian para hackernya. Termasuk aksi pencurian mata uang kripto terbesar sepanjang sejarah yang terjadi pada Maret 2022 lalu, yang menurut US Treasury melibatkan mata uang kripto senilai USD 615 juta.

Nah, mata uang kripto ini menurut para peneliti menjadi sumber pendanaan utama berbagai program besar di Korut, termasuk program persenjataan nuklir miliknya, demikian dikutip detikINET dari Reuters, Kamis (30/6/2022).

Namun penurunan nilai mata uang kripto yang terjadi sejak Mei lalu membuat kondisi ekonomi Korut ikut amburadul. Menurut sumber dari pemerintahan Korea Selatan, kondisi tersebut ikut berdampak pada program persenjataan Korut.

Terutama karena Korut rajin menguji penembakan misilnya, yang menurut Korea Institute for Defense Analyses di Seoul, nilainya mencapai USD 620 juta.

Korut sendiri menurut Chainalysis masih menyimpan mata uang kripto yang didapat dari 49 peretasan yang terjadi dari 2017 sampai 2021, dan nilainya sudah menurun dari USD 170 juta menjadi USD 65 juta.

Bahkan salah satu mata uang kripto Korut yang didapat dari aksi pencurian pada 2021 bernilai puluhan juta dolar nilainya sudah berkurang setidaknya 80%, menjadi kurang dari USD 10 juta.

Tudingan ini ditepis oleh pihak Korut. Seorang sumber dari kedutaan Korut di London menyebut tidak bisa berkomentar terhadap kondisi keuangan Korut yang amburadul akibat amblesnya nilai mata uang kripto karena kabar itu merupakan berita bohong.

"Kami tidak melakukan apa pun," ujar orang yang menjawab telepon di kedutaan Korut dan mengaku sebagai seorang diplomat. Kementerian Luar Negeri Korut pun menyebut tudingan ini merupakan propaganda Amerika Serikat.

Eric Penton-Voak, koordinator untuk panel ahli yang memantau sanksi Korut, menyebut serangan siber menjadi andalan Korut untuk menghindari berbagai sanksi dari negara lain dan mengumpulkan uang untuk mendanai program nuklir dan misil mereka.

Pada 2019 lalu diperkirakan Korut bisa mengumpulkan USD 2 miliar dari serangan siber untuk pengembangan senjata pemusnah massal. Lalu ada lagi perkiraan bahwa Korut menghabiskan USD 640 juta pertahun untuk pengembangan senjata nuklir.



Simak Video "Korea Utara Klaim Gelombang Pertama Pandemi Covid-19 Berakhir"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/afr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT