Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Mengapa Manusia Sudah Lama Tidak Mendarat di Bulan?

Mengapa Manusia Sudah Lama Tidak Mendarat di Bulan?


Fino Yurio Kristo - detikInet

Sudah setengah abad sejak Neil Armstrong mendarat di bulan pada 20 Juli 1969. Berikut kumpulan foto dan deretan fakta menarik terkait misi Apollo 11. Yuk, simak
Foto: Getty Images
Jakarta -

Antara 1969 dan 1972, misi Apollo mengirimkan total selusin astronaut ke permukaan bulan, sebelum ledakan teknologi modern. Jadi,mengapa upaya kembali ke Bulan saat ini, yang diwujudkan dalam program Artemis milik NASA, terasa begitu lambat dan rumit? Jawabannya bermuara pada uang, politik, dan prioritas.

Ya, misi Apollo sangat sukses dan sangat mahal. Pada puncaknya, NASA menghabiskan sekitar 5% anggaran federal dan lebih dari setengahnya dialokasikan untuk program Apollo. Disesuaikan inflasi, keseluruhan program Apollo menelan biaya lebih dari USD 260 miliar. Jika disertakan proyek Gemini dan program robotik Bulan, pendahulu penting Apollo, angkanya mencapai lebih dari USD 280 miliar.

Sebagai perbandingan, saat ini NASA mengelola kurang dari setengah persen anggaran federal, dengan berbagai prioritas jauh lebih luas. Selama dekade terakhir, NASA menghabiskan sekitar USD 90 miliar untuk program Artemis. Dengan dana lebih sedikit untuk pendaratan di Bulan, kemajuannya lebih lambat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faktor yang berkaitan erat dengan finansial adalah realitas politik. Tahun 1960-an, Amerika berada di tengah-tengah perlombaan antariksa dengan Uni Soviet untuk mencapai sebanyak mungkin pencapaian pertama di luar angkasa, terutama mendaratkan manusia di Bulan. Masyarakat mendukung gagasan ini, begitu pula para pembuat undang-undang yang mengatur anggaran NASA.

Namun, pengeluaran semacam itu tidak berkelanjutan. Begitu Amerika "menang", masyarakat cepat kehilangan minat dan pendanaan NASA anjlok. Sederhananya, tidak ada kemauan politik atau publik untuk menghabiskan uang sebanyak itu untuk kembali ke Bulan.

ADVERTISEMENT

Kombinasi antara kemauan politik lebih rendah dan keuangan yang lebih sedikit memaksa NASA membuat beberapa keputusan penting di akhir 1990-an dan awal 2000-an, yang masih mempengaruhi Artemis hingga hari ini.

Ketika program pesawat ulang-alik hampir berakhir, pejabat NASA tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan kapabilitas yang menunjang pesawat ulang-alik tersebut. Mereka memutuskan menggunakan kembali banyak suku cadang pesawat ulang-alik, terutama mesinnya, dan memasukkannya dalam desain Artemis.

Terakhir, Artemis prioritasnya jauh berbeda dari misi Apollo. Contohnya, toleransi risiko kita jauh lebih rendah daripada di 1960-an. Misi Apollo benar-benar berbahaya, dengan peluang kegagalan signifikan. Beberapa misi mengalami bencana, kebakaran Apollo 1 yang menewaskan tiga astronaut, matinya mesin Apollo 6, dan cacat desain fatal yang hampir menewaskan astronaut Apollo 13.

Dikutip detikINET dari Space, NASA, pemerintah AS, dan masyarakat tidak bersedia mengambil tingkat risiko seperti itu lagi, terutama setelah bencana Challenger dan Columbia.

Misi Apollo menghabiskan banyak uang untuk mengirim astronaut ke permukaan Bulan hanya untuk beberapa lusin jam. Mereka pergi, mengumpulkan beberapa sampel, memasang eksperimen sederhana, lalu pulang. Misi Artemis dirancang dengan tujuan yang amat berbeda.

Para astronaut akan menghabiskan waktu hingga seminggu di Bulan, membutuhkan lebih banyak makanan, air, bahan bakar, dan instrumen ilmiah. Kedua, investigasi ilmiah akan menjadi misi utama dalam program Artemis, yang berarti memerlukan desain misi lebih kompleks.

Terakhir, tujuan program Artemis adalah mulai membangun infrastruktur untuk mempertahankan kehadiran manusia secara permanen di sana. Ini adalah program yang jauh lebih rumit.




(fyk/fyk)
TAGS







Hide Ads