Pentingnya Etika dalam Bermedia Sosial

ADVERTISEMENT

Pentingnya Etika dalam Bermedia Sosial

Anggoro Suryo - detikInet
Senin, 27 Jun 2022 07:32 WIB
ilustrasi bullying di medsos
Ilustrasi. Foto: (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia kembali mengadakan rangkaian diskusi virtual literasi digital dengan tema "Indonesia Makin Cakap Digital", Selasa (22/6) lalu.

Acara hasil kerja sama Siberkreasi dan Dyandra Promosindo ini sebagai bagian dari penyelenggaraan Program Literasi Digital di Wilayah Sulawesi, dan tema yang diusung adalah 'Cerdas dalam Bermedia Sosial'.

Acara hari ini dipandu oleh Jihan Novita selaku moderator serta menghadirkan tiga narasumber, yaitu dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Bone A Nur Aisyah Rusnali; dosen, penulis, dan pembuat konten di IAIN Bone Qudratullah; dan Andrika Permana selaku Ketua RTIK Sumatera Selatan Utama.

Dalam sambutan berupa video, Semuel Abrijani Pangerapan yang merupakan Dirjen Aptika Kominfo meningatkan kembali mengenai penggunaan internet di Indonesia yang meningkat tajam.

"Masifnya penggunaan internet di Indonesia menimbulkan risiko penipuan daring, hoaks, perundungan siber, dan hal negatif lainnya. Oleh karena itu, peningkatan ini perlu diimbangi dengan literasi digital yang mumpuni agar masyarakat dapat memanfaatkan produk digital dengan produktif, bijak, dan tepat guna," jelas Semuel.

Sesi pemaparan materi dimulai dengan narasumber pertama, yaitu A Nur Aisyah Rusnali dengan judul "Jangan Asal Posting, Kenali Berbagai Konten Negatif." Aisyah mengawali sesi pertama dengan menjelaskan latar belakang pentingnya etika digital, salah satunya adalah adanya perbedaan kultural dalam berinteraksi dan berkomunikasi di ruang digital sehingga pengguna digital perlu dibekali oleh etika. Ia menuturkan, jumlah pengguna media sosial di Indonesia yang mencapai 150 juta dari total populasi pada Januari 2019.

"Tindakan agresif dari seseorang atau sekelompok orang terhadap orang lain yang lebih lemah dengan menggunakan media digital dapat memunculkan rasa takut si korban, bahkan dapat terjadi kekerasan fisik di dunia nyata," ujarnya.

Selanjutnya, Qudratullah selaku pemateri kedua membawakan tema "Etis Bermedia Digital". Qudratullah menyebutkan beberapa jenis hoaks yang sering beredar di Indonesia, seperti sosial politik, SARA, kesehatan, makanan dan minuman, dan lain sebagainya. Selanjutnya, ia turut menyampaikan fungsi industri kapital hoaks yang terdiri atas uang, kebencian, dan kepentingan.

"Hoaks dapat mudah menyebar karena adanya pengguna digital yang tidak dapat membedakan informasi benar dan salah, serta tergesa-gesa dalam membagikan suatu informasi," ucapnya. Untuk terhindar dari hoaks, ia menyebutkan sejumlah tips yang dapat dilakukan, yakni dengan mengecek ulang judul berita yang bersifat provokatif, mengecek laman suatu situs, dan mengecek sumber atau siapa penulis beritanya," ujar Qudratullah.

Berdasar data pemerintah, pengguna internet di Indonesia pada 2021 meningkat 11% dari 175,4 juta pengguna menjadi 202,6 juta pengguna. Dikutip dari laporan We Are Social, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia meningkat dari 170 juta orang menjadi 191 juta orang pada Januari 2022. Dari jumlah itu, sebanyak 88,7% pengguna banyak memakai aplikasi WhatsApp, Instagram, dan Facebook.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Kominfo diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Sulawesi dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.



Simak Video "Warga Inggris Pilih TikTok hingga Instagram Sebagai Sumber Berita"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT