Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Serangan Drone ke Qatar Usik Pasokan Helium, Industri Chip Ketar-ketir

Serangan Drone ke Qatar Usik Pasokan Helium, Industri Chip Ketar-ketir


Anggoro Suryo - detikInet

A plume of smoke rises over buildings in Doha on March 5, 2026. Multiple rounds of explosions echoed over Doha on March 5 just hours after officials said they were evacuating residents living near the US embassy. Gulf countries have been targeted by repeated waves of Iranian drone and missile attacks in retaliation for the massive US-Israeli air campaign. (Photo by Mahmud Hams / AFP)
Foto: AFP/MAHMUD HAMS
Daftar Isi
Jakarta -

Pasokan helium global terguncang setelah fasilitas produksi besar milik QatarEnergy di Ras Laffan, Qatar, berhenti beroperasi lebih dari sepekan akibat serangan drone yang dikaitkan dengan konflik regional melibatkan Iran. Gangguan ini langsung menyoroti kerentanan rantai pasok industri semikonduktor dunia.

Fasilitas di Ras Laffan Industrial City merupakan salah satu pusat produksi helium terbesar di dunia dan menyumbang hampir sepertiga pasokan global. Penutupan fasilitas tersebut terjadi pada 2 Maret setelah serangan drone menghentikan operasi, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (16/3/2026).

Dua hari kemudian, QatarEnergy menyatakan force majeure, yang berarti perusahaan dibebaskan sementara dari kewajiban pengiriman kontrak. Dampaknya langsung terasa di pasar global karena sekitar 30% pasokan helium dunia tiba-tiba terhenti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Helium Sangat Penting untuk Industri Chip

Helium merupakan gas presisi yang sangat penting dalam proses produksi chip semikonduktor. Gas ini digunakan untuk mendinginkan wafer silikon selama proses fabrikasi agar suhu tetap sangat rendah saat tahap etsa dan litografi.

Berbeda dengan banyak gas industri lainnya, helium hampir tidak memiliki pengganti yang efektif. Karena itu, gangguan pasokan sekecil apa pun berpotensi mengganggu produksi teknologi global.

Negara yang paling terdampak adalah Korea Selatan. Menurut data asosiasi perdagangan negara tersebut, sekitar 65% pasokan helium Korea Selatan pada 2025 berasal dari Qatar.

Pemerintah Korea Selatan kini meninjau 14 material dan peralatan kritis untuk industri semikonduktor yang memiliki keterkaitan dengan pasokan dari Timur Tengah.

Salah satu material yang ikut diperiksa adalah bromin. Sekitar 90% impor bromin Korea Selatan berasal dari Israel, negara lain yang juga berada di tengah ketegangan geopolitik kawasan.

Produsen Chip Siapkan Antisipasi

Sejumlah produsen chip besar mengatakan mereka telah menyiapkan langkah mitigasi. SK Hynix menyebut telah melakukan diversifikasi pemasok helium dan memiliki stok yang cukup untuk sementara waktu. Sementara itu TSMC menyatakan sedang memantau situasi namun belum melihat dampak signifikan dalam jangka pendek.

Bersama Taiwan, Korea Selatan menyumbang sekitar 36% produksi semikonduktor global, menurut data dari Semiconductor Industry Association dan Boston Consulting Group.

Menurut analis industri gas Phil Kornbluth, jika fasilitas Ras Laffan tetap berhenti lebih dari dua minggu, distributor gas industri mungkin perlu melakukan penyesuaian logistik besar-besaran.

Langkah tersebut bisa mencakup pemindahan peralatan kriogenik serta menjalin kontrak baru dengan pemasok alternatif, proses yang berpotensi memakan waktu berbulan-bulan.

Situasi ini mengingatkan pada krisis gas industri pada 2022 ketika invasi Rusia ke Ukraina mengganggu pasokan helium dan neon dunia. Krisis tersebut sempat memicu kekhawatiran terhadap produksi chip global.

Kini, industri semikonduktor kembali menghadapi ujian serupa setelah gangguan pasokan helium dari Timur Tengah mengancam stabilitas rantai pasok teknologi global.




(asj/afr)




Hide Ads