3 Isu Prioritas yang Dibawa RI di Forum Ekonomi Digital G20

3 Isu Prioritas yang Dibawa RI di Forum Ekonomi Digital G20

Yudistira Perdana Imandiar - detikInet
Rabu, 16 Mar 2022 13:02 WIB
Menkominfo dan Menko Marves Maritim
Foto: Kemenkominfo
Jakarta -

Transformasi digital yang inklusif menjadi salah satu topik pembahasan di Presidensi G20 Indonesia 2022. Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menyatakan dalam Forum Digital Economy Working Group (DEWG), Pemerintah RI akan membahas tiga isu prioritas.

"Melalui DEWG G20, Indonesia dapat menjadi jembatan bagi negara-negara emerging nation dan saling berbagi pengalaman, membagikan lesson learned yang telah dilakukan di negara masing-masing. Sehingga ada suatu pemahaman bersama sebagai standar yang akan menjadi model atau potensi standar yang kita gunakan secara bersama-sama di tingkat global," jelas Johnny dikutip dalam keterangan tertulis, Rabu (16/3/2022).

Dalam sesi Diskusi Kick Off Meeting DEWG G20 2022 di Grand Hyatt Jakarta, Selasa (15/3), ia menjabarkan forum DEWG Presidensi G20 tahun ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk meninggalkan legacy melalui kesepakatan-kesepakatan di meja perundingan G20 dari Indonesia bagi dunia.

"Berangkat dari ketiga isu prioritas G20 Indonesia, Kominfo menerjemahkan ke dalam tiga isu prioritas DEWG. Karena hari ini kick off meeting, maka tentu kita harus memberikan gambaran menyeluruh apa itu tiga isu secara detailnya," sebut Johnny.

Isu prioritas pertama dalam DEWG yaitu connecitivity and post COVID-19 recovery. Menurut Johnny, isu tersebut akan dibahas secara signifikan terkait konektivitas digital dalam rangka untuk mendukung pengembangan ekonomi pemulihan pascapandemi COVID-19.

"Dalam Keketuaan Kominfo pada DEWG ini terdapat beberapa harapan konkret, salah satunya elevasi G20 Innovation League menjadi G20 Digital Innovation Network sebagai suatu wadah yang membangun dan memfasilitasi kerja sama antara pemerintah dan pelaku usaha. Seperti inovasi digital swasta, startup, venture capital atau kegiatan korporasi lain dengan lingkup global," papar Johnny.

Selanjutnya, isu prioritas kedua berkaitan dengan digital skills and digital literacy. Johnny mendorong pengembangan kegiatan kecakapan digital dan literasi digital untuk meningkatkan kesiapan masyarakat dalam kegiatan ekonomi digital dalam skala global.

"Kita sama-sama tahu ICT infrastuktur hulu itu enabler dan harus bisa dimanfaatkan di ruang digital. Bapak Presiden menyebutnya hilirisasi atau pemanfaatan di sektor hilir di semua bidang termasuk ekonomi digital. Karenanya, prioritas isu ini salah satunya adalah dalam bentuk G20 Toolkit for Measuring Digital Skills and Digital Literacy, di mana nanti akan dibahas alat untuk mengukur tingkat kecakapan dan literasi digital di Negara Anggota G20," urai Johnny.

Adapun isu prioritas ketiga dalam DEWG yakni cross border data flow and data free flow with trust. Salah satunya membahas dari sisi hulu mengenai konsumsi listrik.

"Konsumsi power untuk data per kapita di Indonesia saat ini masih 1 watt per kapita. Kalau kita bandingkan dengan Singapura misalnya yang 100 watt per kapita, Jepang hampir sama dengan kita 10 watt per kapita. Satu watt per kapita konsumsi data di Indonesia ini setara dengan 270 sampai 300 mega watt. Kalau sama saja standarnya dengan Jepang, setidaknya kita membutuhkan 9 sampai 10 kali lipat investasi listriknya," papar Johnny.,

Johnny menegaskan konsumsi daya menjadi peluang investasi besar di sisi hulu infrastruktur. Belum lagi pemanfaatan hilir yaitu data sebagai kekuatan ekonomi nasional.

"Di DEWG G20 ini pengalaman kita, kesepakatan pengetahuan yang kita sharing dengan negara-negara anggota G20 yang lain bagaimana mengatur transformasi digital di dunia. Tidak saja G20, tetapi keseluruhan masyarakat dunia sehingga lebih inklusif termasuk di Afrika Utara," terang Johnny.

(ncm/ega)