Kontroversi Ibadah Haji di Metaverse

Kontroversi Ibadah Haji di Metaverse

Fitraya Ramadhanny - detikInet
Selasa, 08 Feb 2022 05:45 WIB
Muslim pilgrims pray around the Kaaba, the cubic building at the Grand Mosque, as they keep social distancing during the minor pilgrimage, known as Umrah, marking the holy month of Ramadan, in the Muslim holy city of Mecca, Saudi Arabia, Monday, April 12, 2021. During Ramadan, the holiest month in Islamic calendar, Muslims refrain from eating, drinking, smoking and sex from dawn to dusk. (AP Photo/Amr Nabil)
Kakbah di Masjidil Haram (Foto: AP/Amr Nabil)
Jakarta -

Demam metaverse memunculkan wacana kontroversial yaitu ibadah Haji di metaverse. Apa tanggapan ulama?

Metaverse adalah memindahkan dunia kita ke alam virtual. Segala hal yang kita lakukan di dunia nyata, bisa dilakukan di dunia maya melalui avatar. Mulai dari urusan beli tanah virtual sampai rapat kantor.

Namun, bagaimana dengan perkara ibadah? Nah, di Timur Tengah lagi ramai perdebatan mengenai wacana ibadah haji di metaverse. Bagaimana hal itu bermula?

Dihimpun detikINET, Selasa (8/2/2022) wacana ibadah Haji di metaverse bermula ketika Kakbah di Masjidil Haram sudah hadir di metaverse. Kakbah di metaverse ini resmi dibuat oleh Kerajaan Saudi Arabia.

Diberitakan Middle East Eye, proyek metaverse ini bernama Virtual Black Stone Initiative yang diluncurkan akhir Desember 2021. Imam Besar Masjidil Haram Sheikh Abdul Rahman Al Sudais adalah yang pertama mengunjungi Kakbah metaverse ini dengan Virtual Reality (VR).

Kakbah di metaverse ini digagas pemerintah Saudi melalui Badan Urusan Pameran dan Museum bekerja sama dengan Universitas Ummul Quro. Tujuannya adalah memberi kesempatan umat Islam bisa menyentuh Hajar Aswad secara virtual.

Maklumlah, di dunia nyata mereka harus rebutan dengan ribuan orang lain. Atau, kita tidak bisa sama sekali menyentuhnya karena pandemi Corona.

Lantaran itu, di Timur Tengah lalu mencuat ide, kalau Kakbah sudah ada di metaverse, bagaimana kalau ibadah Haji juga dilakukan di metaverse.

Perdebatan ini tampaknya tidak sampai ke Indonesia, tapi cukup ramai di Timur Tengah. Bagaimana tanggapan ulama? Rupanya, para ulama Turki duluan yang angkat bicara.

Diberitakan Hurriyet Daily News Turki, Departemen Urusan Agama Turki (Diyanet) setelah mengkajinya sebulan, mengeluarkan keputusan: Mengunjungi Kakbah di metaverse tidak dianggap ibadah Haji.

"Haji di metaverse tidak bisa terjadi. Umat bisa mengunjungi Kakbah di metaverse tapi itu tidak akan dianggap sebagai ibadah," kata Direktur Departemen Layanan Haji dan Umrah Diyanet, Remzi Bircan.

Mereka memutuskan haji harus dilakukan di dunia nyata. Kakbah lewat VR dianggap sama saja dengan layanan VR di sejumlah museum dunia.

*Anda kini bisa cek harga dan perbandingan smartphone terbaru di detikINET. Silakan klik DI SINI.



Simak Video "Penjelasan Kominfo soal Tren Metaverse di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(fay/fyk)