Meta dilaporkan tengah memperketat pengawasan terhadap penggunaan komputer karyawannya. Langkah ini diambil bukan sekadar untuk memantau kinerja, melainkan untuk mengumpulkan data besar-besaran guna melatih sistem kecerdasan buatan (AI) terbarunya.
Berdasarkan laporan The New York Times, kebijakan ini mewajibkan pengumpulan data mendetail dari laptop perusahaan milik staf Meta di Amerika Serikat. Data yang diambil mencakup segala hal yang diketik karyawan, pergerakan mouse, setiap klik yang dilakukan, hingga rekaman apa saja yang muncul di layar monitor mereka.
Pihak Meta menyatakan bahwa kumpulan data ini sangat krusial untuk membantu sistem AI mempelajari cara manusia menyelesaikan tugas-tugas harian di komputer secara efisien.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Protes Internal dan Tanpa Opsi Opt-Out
Kebijakan ini sontak memicu gelombang protes di forum internal perusahaan. Banyak karyawan, terutama para insinyur, merasa tidak nyaman dengan tingkat pengawasan yang dianggap terlalu dalam tersebut.
"Ini membuat saya sangat tidak nyaman. Bagaimana cara kami untuk keluar (opt-out) dari kebijakan ini?" tulis salah satu manajer teknik di forum internal.
Namun, jawaban dari Andrew Bosworth, Chief Technology Officer (CTO) Meta, justru memicu rasa frustrasi lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa tidak ada pilihan bagi karyawan untuk menolak pemantauan tersebut di laptop korporat mereka. Respons tegas Bosworth ini pun dibanjiri ratusan emoji negatif dari para staf.
Meski begitu, Meta bersikeras bahwa data tersebut dikendalikan dengan sangat ketat dan memiliki perlindungan keamanan untuk konten sensitif. "Data ini tidak digunakan untuk tujuan lain dan tidak akan menjadi risiko kebocoran," tulis Bosworth.
Persaingan Token dan Budaya Automasi
Seiring ambisi Mark Zuckerberg untuk mengejar 'superintelligence', budaya kerja di Meta kini mulai berubah. Penggunaan alat AI kini menjadi metrik performa yang diukur secara nyata melalui dashboard penggunaan 'token' (satuan pemrosesan AI).
Kondisi ini menciptakan persaingan antar karyawan. Beberapa staf mulai membangun agen AI dalam jumlah besar untuk mengotomatisasi tugas mereka. Menariknya, muncul fenomena di mana agen AI digunakan untuk meninjau hasil kerja agen AI lainnya demi meningkatkan angka penggunaan di dashboard perusahaan.
Ironi PHK di Tengah Pengembangan AI
Ketegangan di internal Meta semakin memuncak karena kebijakan pemantauan ini berbarengan dengan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK). Meta berencana memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya, atau sekitar 8.000 karyawan, pada bulan Mei ini.
Pimpinan sumber daya manusia Meta, Janelle Gale, menyebutkan bahwa pengurangan staf ini dilakukan untuk mengimbangi investasi besar-besaran yang dilakukan perusahaan di bidang AI.
Hal inilah yang memicu demoralisasi di kalangan karyawan. Mereka merasa secara tidak langsung sedang dipaksa membangun sistem yang pada akhirnya akan menggantikan peran mereka sendiri di masa depan.
Pembelaan Mark Zuckerberg
Dalam pertemuan tingkat perusahaan, Mark Zuckerberg membantah bahwa sistem pemantauan baru ini ditujukan untuk memata-matai atau mengawasi kinerja individu.
Zuckerberg berdalih bahwa pengumpulan data ini murni bertujuan untuk riset guna melihat "bagaimana orang-orang pintar menggunakan komputer untuk menyelesaikan tugas." Ia menekankan bahwa bidang AI saat ini adalah salah satu bidang paling kompetitif dalam sejarah teknologi.
Meski begitu, ketidakpastian tetap menyelimuti masa depan struktur perusahaan. Chief Financial Officer Meta, Susan Li, mengakui dalam sebuah panggilan investor bahwa perusahaan pun belum mengetahui berapa ukuran organisasi yang optimal di masa depan di tengah pesatnya kemajuan kemampuan AI, demikian dikutip detikINET dari TechSpot, Kamis (14/5/2026).
(asj/fay)

