Harga Pulsa di Papua Lebih Mahal dari Jawa, Apa Solusinya?

Harga Pulsa di Papua Lebih Mahal dari Jawa, Apa Solusinya?

Aisyah Kamaliah - detikInet
Kamis, 07 Okt 2021 19:45 WIB
Warga di Iseren, Teluk Wondama, Papua Barat
Anak-anak di Desa Iseren, Pulau Rumbepon, Teluk Wondama (Foto: Aisyah Kamaliah/detikcom)
Manokwari -

Harga pulsa di Papua lebih mahal daripada di Jawa. Apa solusinya agar harganya bisa merata?

Masalah ini masih ditambah faktor jarak untuk membeli pulsa. Contohnya di Pulau Rumberpon, Teluk Wondama, Papua Barat, warga harus naik perahu untuk membeli pulsa di kota.

Menteri Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Johnny G Plate dalam 'Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Akses Telekomunikasi dan Peresmian BTS di Provinsi Papua Barat', Rabu (6/10/2021) menyampaikan sejumlah langkah yang harus ditempuh guna mewujudkan hal tersebut.

Menurutnya, di dalam Undang Undang Cipta Kerja sektor Postelsiar sudah diatur tiga hal untuk menjaga dan memungkinkan industri yang berkembang dengan baik. Namun ini tidak membebani konsumennya.

"Pertama adalah infrastruktur sharing. Infrastruktur pasif dan aktif itu sharing, sehingga kami mendorong operator nasional bisa memanfaatkan bersama-sama. Tidak membangun capex yang double triple, jadi bisa digunakan secara bersama-sama," kata Johnny.

Kedua adalah konsolidasi industri di mana bisa menciptakan modal yang lebih kuat dan sekaligus infrastruktur yang lebih besar. Begitu pula dari segi SDM, menjadi semakin bertambah hebat.

Manfaat konsolidasi termasuk juga dalam hal pemanfaatan sharing frekuensi dalam rangka efesiensi spektrum. Spektrum adalah pita di mana sinyal telekomunikasi bergerak.

"Nah ini bicaranya dengan ketersediaan bandwitch. Semakin banyak yang menggunakan, pemanfaatan penggunaan spektrum menjadi efisien. Di situ sudah diatur spektrum sharing," kata Menkominfo Johnny G Plate.

Yang ketiga, bicara soal kebijakan tarif. Di UU Cipta Kerja sudah diatur batas atas dan batas bawah tarif. Batas atas, masih menurut Menkominfo Johnny, melindungi dari overpricing atau harga yang kelewat tinggi dan membebani masyarakat. Sementara batas bawah, menjaga dari terjadinya predator pricing di mana operator saling banting harga yang berujung pada kolaps di industri.

"Dengan ketiga kebijakan itu, kita harapkan unit cost dari telekomunikasi menjadi lebih kompetitif dan murah, sama seperti di transportasi, logistic cost-nya bisa turun di sini (Papua - red), berarti telekomunikasi cost-nya juga bisa turun sehingga tingkat tarifnya bisa terjangkau untuk masyarakat," pungkasnya.



Simak Video "Jokowi Minta Papua Barat Jadi Produsen Pertanian Pertama di Indonesia Timur"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)