Twitter: Orang Indonesia Sudah Tak Kasih Stigma Kesehatan Mental

Twitter: Orang Indonesia Sudah Tak Kasih Stigma Kesehatan Mental

Aisyah Kamaliah - detikInet
Kamis, 16 Sep 2021 15:45 WIB
Orang yang sedang stres.
Orang Indonesia sudah lebih sadar soal isu kesehatan mental. Foto: Thinkstock
Jakarta -

Twitter menemukan bahwa orang Indonesia sudah tidak lagi menganggap kesehatan mental sebagai hal yang tabu atau perlu diberi stigma negatif. Hal ini diungkapkan langsung oleh Country Industry Head Twitter Indonesia Dwi Ardiansah kepada rekan media secara virtual.

Pandemi membuat dampak yang cepat, dulu kita tidak bisa membayangkan hidup tanpa pandemi dan nampaknya ini akan berkepanjangan. Topik dari 2020 menurutnya walau secara spesifik percakapan soal penyakitnya sudah menurun, akan tetapi percakapan untuk tetap sehat mengalami peningkatan.

"Selfcare atau mental wellness mengalami kenaikan 17%. Tren ini tertangkap Twitter meningkat di momen penting di saat ada PSBB, tahun baru, dan Ramadhan ketika semua orang kesulitan bertemu keluarga mereka," kata pria yang akrab disapa Ade ini, Kamis (16/9/2021).

Perawatan untuk kesehatan mental diri sendiri atau selfcare juga menjadi highlight karena mengalami kenaikan 23%. Level stres meningkat, mengobrol dan diskusi menjadi hal paling dicari diri sendiri. Ada sebagian yang memilih melakukan 'digital detox' untuk menghilangkan kecemasan, tapi banyak juga yang membicara tips seputar kesehatan mental dan semakin banyak pula komunitasnya.

"Ada kenaikan 17% mental health berbagi saling support pengalaman seputar kesehatan mental. Orang berdiskusi kasih strategi penyembuhan dan tips. Intinya mereka tidak sendirian. Peer support. Kesehatan mental tidak lagi tabu dan di Twitter semua menghilangkan stigma," jelas Ade.

Ini juga yang kemudian bisa dimanfaatkan brand untuk memakai Twitter sebagai cara membangun hubungan dengan customernya. Kuncinya adalah 'launch and connect'. Di saat ingin meluncurkan, harus ada nilai tambah sehingga ini menjadi viral.

"Launch. Banyak brand yang melakukan ini di Twitter dengan topik well being. Ditekankan, brand itu bukan hanya selling alias jualan tapi juga harus memberikan value, mengetahui apa tujuan mereka," ujar Ade.

"Sementara 'connect', brand harus cermat menjadi relevan dengan momen saat itu. Kalau lagi Ramadhan ya relevansinya harus seputar Ramadhan. Kalau momen yang bisa dipepetin dengan kesehatan mental, ada World Mental Health Day," contohnya.



Simak Video "Target Kesehatan Mental di Indonesia: ODGJ Berat Dapatkan Pelayanan "
[Gambas:Video 20detik]
(ask/ask)