Polusi Udara Berkaitan dengan Sakit Mental Parah, Kok Bisa?

Polusi Udara Berkaitan dengan Sakit Mental Parah, Kok Bisa?

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 29 Agu 2021 08:00 WIB
Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Fatalitas Covid-19?
Foto: DW (SoftNews)
Jakarta -

Paparan polusi udara terkait dengan peningkatan keparahan penyakit mental. Setidaknya, demikian hasil penelitian yang melibatkan 13.000 orang di London, Inggris.

Studi ini menemukan bahwa peningkatan yang relatif kecil dalam paparan nitrogen dioksida menyebabkan peningkatan 32% risiko membutuhkan perawatan berbasis komunitas dan peningkatan 18% risiko dirawat di rumah sakit.

Para peneliti mengatakan, temuan ini mungkin berlaku untuk sebagian besar kota di negara maju, dan karenanya, pengurangan polusi udara dapat bermanfaat bagi jutaan orang.

"Polusi udara dapat dimodifikasi, dan dalam skala besar juga, mengurangi paparan tingkat populasi," kata Joanne Newbury, dari University of Bristol, dikutip dari The Guardian.

"Kami tahu ada intervensi yang bisa digunakan, seperti perluasan zona rendah emisi. Intervensi kesehatan mental di tingkat individu sebenarnya cukup sulit," tambahnya.

Studi ini menggunakan frekuensi kunjungan ke rumah sakit atau ke dokter komunitas dan perawat sebagai ukuran tingkat keparahan. Para peneliti menghitung bahwa pengurangan kecil dalam satu polutan saja dapat mengurangi penyakit dan menyelamatkan anggaran National Health Service (NHS) Inggris hingga puluhan juta per tahun.

Tingkat polusi udara di London telah turun dalam beberapa tahun terakhir tetapi tidak ada tingkat yang aman, kata Ioannis Bakolis, dari King's College London, yang memimpin penelitian tersebut.

'Bahkan pada tingkat polusi udara yang rendah, Anda dapat mengamati efek yang sangat penting semacam ini," ujarnya.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa peningkatan kecil dalam polusi udara berkaitan dengan peningkatan signifikan dalam hal depresi dan kecemasan.

Data ini juga menghubungkan udara kotor dengan peningkatan upaya bunuh diri dan menunjukkan bahwa tumbuh di tempat yang udaranya tercemar meningkatkan risiko gangguan mental. Penelitian lain menemukan bahwa polusi udara menyebabkan penurunan kecerdasan secara signifikan dan terkait dengan demensia. Tinjauan global pada tahun 2019 bahkan menyimpulkan bahwa polusi udara dapat merusak setiap organ dalam tubuh manusia.

Studi yang diterbitkan di British Journal of Psychiatry ini melacak pasien di London selatan dari kontak pertama mereka dengan layanan kesehatan mental dan menggunakan perkiraan resolusi tinggi polusi udara di rumah mereka.

Tingkat NO2 rata-rata triwulanan di wilayah studi bervariasi antara 18-96 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Para peneliti menemukan bahwa orang yang terpapar polusi dengan tingkat 15µg/m³ atau lebih tinggi memiliki risiko 18% lebih tinggi untuk dirawat di rumah sakit dan risiko 32% lebih tinggi untuk memerlukan perawatan rawat jalan setelah satu tahun.

NO2 sebagian besar dipancarkan oleh kendaraan diesel, tetapi ada juga yang berasal dari polusi partikel kecil yang dihasilkan dengan membakar bahan bakar fosil. Tingkat partikel kecil bervariasi dari 9 hingga 25 g/m³ dan peningkatan paparan ini meningkatkan risiko masuk rumah sakit sebesar 11% dan risiko perawatan rawat jalan sebesar 7%.

Para ilmuwan menilai lagi data pasien setelah tujuh tahun melakukan perawatan pertama, dan menemukan hubungan dengan polusi udara masih terlihat jelas. Temuan ini tidak dijelaskan oleh berbagai kemungkinan faktor lain termasuk usia, jenis kelamin, etnis, kekurangan atau kepadatan penduduk, meskipun faktor yang tidak teridentifikasi mungkin masih memainkan peran penting.

"Mengidentifikasi faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk keparahan penyakit dan kekambuhan dapat menginformasikan upaya intervensi dini dan mengurangi penderitaan manusia dan biaya ekonomi yang tinggi yang disebabkan oleh penyakit mental kronis jangka panjang," kata para peneliti.

Studi ini tidak dirancang untuk membuktikan hubungan sebab akibat antara polusi udara dan tingkat keparahan penyakit mental karena membutuhkan pekerjaan eksperimental yang sulit. Namun menurut para peneliti, hubungan tersebut masuk akal secara biologis karena polutan udara diketahui memiliki sifat inflamasi yang kuat dan peradangan yang diyakini menjadi faktor dalam gangguan psikotik dan mood.



Simak Video "WHO: Paparan Polutan Udara dengan Tingkat Sangat Rendah Pun Berbahaya"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/asj)