Rusia Mau Sensor Twitter, yang Kena Blokir Malah Google Dkk

Rusia Mau Sensor Twitter, yang Kena Blokir Malah Google Dkk

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Sabtu, 13 Mar 2021 22:30 WIB
data center lulea
Ilustrasi data center. Foto: Guardian
Jakarta -

Saat Rusia mencoba untuk menyensor Twitter, belasan situs lain termasuk Google dan YouTube malah down. Menurut Rusia, hal ini terjadi karena kebakaran yang terjadi di Prancis.

Data center yang dimaksud Rusia adalah data center milik penyedia layanan cloud asal Prancis bernama OVHCloud, yang terbakar pada Rabu (10/3). Menurut Roskomnadzorm, media asal Rusia, kebakaran tersebut menyebabkan down-nya sejumlah layanan seperti Google dan YouTube di Rusia.

Tudingan ini langsung dibantah oleh Google, yang menyebut tak menemukan adanya bukti yang mengindikasikan kebakaran milik OVHCloud menjadi penyebab down-nya layanan tersebut.

"Setelah menginvestigasi, kami tak menemukan adanya bukti yang mengindikasikan kalau kebakaran di data center OVHCloud, ataupun infrastruktur milik Google, menjadi penyebab utama dari insiden tersebut," ujar juru bicara Google dalam pernyataannya di Business Insider, seperti dilansir Sabtu (13/3/2021).

Lebih lanjut, menurut Google, down-nya sejumlah layanan tersebut terjadi selama dua jam dan terjadi karena adanya masalah konfigurasi di router pada internet service provider (ISP) lokal.

"Kami percaya kalau penyebab insiden ini karena adanya miskonfigurasi pada router di ISP lokal pihak ketiga," tambahnya.

Layanan Google -- dan sejumlah layanan lain -- yang down ini terjadi pada hari yang sama dengan percobaan Rusia untuk memperlambat akses ke Twitter. Hal itu mereka lakukan karena katanya Twitter tak mau menghapus konten ilegal. Namun yang terjadi adalah situs-situs lain ikut terblokir.

Tudingan ini dibantah oleh Roskomnadzor, down-nya layanan Google tak ada hubungannya dengan langkah Rusia untuk memblokir ataupun memperlambat akses ke Twitter.

Rusia sendiri mau memperlambat akses ke Twitter karena mereka menemukan ada 3.000 postingan yang melanggar aturan di negara tersebut, dan tidak dihapus oleh Twitter.

Alhasil mereka pun berencana untuk mengurangi kecepatan akses ke Twitter sampai dengan 50%, dan bahkan berencana untuk memblokir secara penuh platform media sosial tersebut.



Simak Video "Vladimir Putin Teken Aturan Bisa Kembali Jadi Presiden 2 Periode"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)