CEO Telegram Klaim Facebook dan WhatsApp Lancarkan Serangan Hoax

CEO Telegram Klaim Facebook dan WhatsApp Lancarkan Serangan Hoax

Agus Tri Haryanto - detikInet
Minggu, 17 Jan 2021 07:31 WIB
Telegram vs WhatsApp
Foto: Internet
Jakarta -

CEO Telegram Pavel Durov menuding bahwa ada upaya Facebook untuk menjatuhkan layanan pesan instan miliknya yang saat ini tengah meroket. Di sisi lain, kebijakan baru WhatsApp yang berbagi data dengan Facebook memicu kontroversi.

Pavel mengungkapkan berdasarkan informasi yang diterimanya, Facebook memiliki departemen khusus guna mengusut mengapa Telegram bisa sukses dan makin populer. Sebagai informasi, saat ini pengguna Telegram sudah melampaui 500 juta yang tersebar di berbagai negara.

"Dengan sekitar 500 juta pengguna dan terus berkembang, Telegram telah menjadi masalah utama bagi perusahaan Facebook," kata Pavel dikutip dari channel miliknya di Telegram.

Bahkan, Pavel mengklaim telah mendeteksi bot yang diperintahkan untuk menyebarkan informasi tidak akurat mengenai Telegram di media sosial. Pria yang pernah berkunjung ke Indonesia ini mengatakan bahwa itu ulah Facebook.

Ia pun memaparkan setidaknya ada tiga mitos berkaitan dengan informasi yang tidak akurat seperti dikatakannya. Pertama, "Kode Telegram bukanlah open-source". Padahal, Pavel mengatakan, platform pesan instan yang dibuatanya itu telah menjadi open-source sejak 2013.

"Enkripsi dan API kami didokumentasikan sepenuhnya dan telah ditinjau oleh pakar keamanan ribuan kali. Selain itu, Telegram adalah satu-satunya aplikasi perpesanan di dunia yang memiliki build yang dapat diverifikasi baik untuk iOS dan Android. Adapun WhatsApp, mereka sengaja mengaburkan kode mereka, sehingga tidak mungkin untuk memverifikasi enkripsi dan privasi mereka," tuturnya.

Kedua, "Telegram adalah bahasa Rusia". Faktanya, seperti disampaikan Pavel, Telegram tidak memiliki server atau kantor di Rusia. Malah layanan berlogo pesawat kertas ini diblokir sejak periode 2018 hingga 2020.

"Telegram masih diblokir di beberapa negara seperti Iran. Sementara, WhatsApp dan aplikasi "yang seharusnya aman" tidak pernah mengalami masalah di negara tersebut.

Ketiga, "Telegram tidak dienkripsi". Pavel mengatakan bahwa setiap percakapan yang terjadi di Telegram telah dienkripsi sejak layanan ini diluncurkan. Sedangkan WhatsApp, disebut Pavel, tidak terenkripsi selama beberapa tahun sebelum pada akhirnya mengikut jejak Telegram.

"WhatsApp, di sisi lain, tidak memiliki enkripsi selama beberapa tahun, dan kemudian mengadopsi protokol enkripsi yang didanai oleh Pemerintah AS. Meskipun kami berasumsi bahwa enkripsi WhatsApp solid, itu tidak valid melalui beberapa pintu belakang dan bergantung pada cadangan," pungkasnya.



Simak Video "Gaet Jutaan User Baru, CEO Telegram: Migrasi Digital Terbesar"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/afr)