Zaman Sudah Canggih, Teknologi Black Box Masih Jadul

Zaman Sudah Canggih, Teknologi Black Box Masih Jadul

Tim - detikInet
Selasa, 12 Jan 2021 06:10 WIB
6 Fakta Penting Tentang Black Box Pesawat Terbang Yang Perlu Anda Ketahui
Black Box. Foto: DW (SoftNews)
Jakarta -

Kotak hitam pesawat atau black box menyimpan misteri yang bisa mengungkap penyebab kejadian kecelakaan. Ia berfungsi untuk menyimpan percakapan yang terjadi antara pilot kepada krunya atau menara pengawas.

Selain itu, black box juga bisa menyimpan berbagai informasi dari banyak sensor di pesawat terkait masalah yang bisa jadi penyebab kecelakaan. Nantinya, informasi yang terekam akan dijadikan petunjuk oleh pihak berwenang untuk mengungkap misteri penyebab kecelakaan.

Walau memiliki kemampuan mumpuni, namun alat ini disebut sudah jadul alias ketinggalan zaman. Apalagi di tengah pesatnya perkembangan teknologi pada zaman saat ini.

Tahukah Anda kalau black box yang jamak digunakan saat ini pertama kali ditemukan pada 1950an? Lantas di bagian mana ketinggalan zamannya? Sebelum sampai ke bagian itu ada baiknya kita menelusuri lebih dulu secara singkat perjalanan lahirnya black box.

Adalah Dr. David Warren dari Australia yang pertama kali mendesainnya. Ia terinspirasi dari kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa ayahnya pada 1934 saat dirinya masih berusia 9 tahun.

Prototipe pertama black box dibuat pada 1956 dengan nama ARL Flight Memori Unit. Butuh sekitar 5 tahun bagi Warren hingga perangkat buatannya dianggap penting oleh dunia penerbangan.

Sejak saat itu, tidak ada perubahan berarti terhadap fungsi maupun fitur yang dimilikinya. Black Box terdiri dari dua bagian, yaitu Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (VCR).

Berdasarkan keterangan dari Anthony Brickhouse, dari Embry-Riddle Aeronautical University, kampus penerbangan di Amerika Serikat, FDR bertugas menyimpan parameter penerbangan selama 25 jam sebelum ditimpa dengan rekaman baru. Informasi tersebut meliputi kecepatan, ketinggian, waktu, hingga arah pesawat.

Sedangkan VCR menyimpan percakapan antara pilot kepada krunya atau menara pengawas. Periode rekamannya selama dua jam, dan setelahnya ia akan terus merekam ulang dengan sendirinya dan menimpa data sebelumnya.

Black box terbaru telah menggunakan memori jenis solid-state sebagai media penyimpanannya -- dalam satu hal ini memang tak ketinggalan zaman. Adapun kapasitas penyimpanannya bisa menampung sampai 700 parameter data penerbangan.

Selain itu, ada standar keamanan juga yang harus dimiliki black box, yaitu tahan api, tahan air, dan mampu menahan tekanan hingga di kedalaman 6.000 meter di bawah permukaan laut. Oh ya, black box tak berwarna hitam, melainkan jingga agar mudah dilihat.

Melihat sederetan kemampuannya itu, di bagian mana sih ketinggalan zamannya? Nah, hal ini mulai tampak dari cara untuk menemukan black box.

Ketika ia jatuh ke dalam air, maka black box akan mengirimkan getaran. Sayang, alat pelacaknya itu memiliki baterai yang hanya tahan sampai 30 hari. Lewat dari situ, pencariannya akan semakin sulit.

Salah satunya terjadi pada kasus kecelakaan Air France pada 2009. Petugas butuh waktu sampai dua tahun untuk menemukan black box.

Sejak kejadian tersebut, Prancis punya sejumlah ide untuk memberikan pengembangan terhadap perangkat tersebut. Beberapa di antaranya adalah mekanisme ketapel ketika ia jatuh di permukaan air, sampai peningkatan ketahanan pelacaknya sampai 90 hari.

Mungkin ada yang berpikir, kenapa tidak disematkan GPS saja? Sayang, tidak seperti smartphone, teknologi tersebut sulit diterapkan pada black box.