YouTube Enggan Hapus Video yang Klaim Kemenangan Trump

YouTube Enggan Hapus Video yang Klaim Kemenangan Trump

Virgina Maulita Putri - detikInet
Kamis, 05 Nov 2020 09:34 WIB
Ilustrasi Google, ilustrasi YouTube, dan ilustrasi Facebook
YouTube Enggan Hapus Video yang Klaim Kemenangan Trump Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

YouTube mengatakan tidak akan menghapus video yang mengklaim kemenangan Presiden Donald Trump karena tidak melanggar kebijakannya. Padahal saat ini penghitungan suara belum selesai hasil pemilihan presiden Amerika Serikat belum diumumkan secara resmi.

Dikutip detikINET dari CNBC, Kamis (5/11/2020) video berjudul 'Trump Won. MSM hopes you don't believe your eyes' ini diunggah oleh organisasi media pro-Trump One American News Network (OANN) pada hari Rabu pagi.

Dalam video itu, seorang pembaca berita OANN mengatakan Trump telah menang periode kedua dan menyamakan penghitungan surat suara yang dikirim lewat pos sebagai percobaan untuk mencurangi pilpres.

Meski informasi yang ditampilkan tidak benar, YouTube mengatakan video tersebut tidak melanggar kebijakan kontennya. Tapi mereka mengatakan video tersebut melanggar kebijakan iklan sehingga bisa tetap ditayangkan meski tanpa iklan.

Juru bicara YouTube mengatakan saat ini kebijakan mereka tentang misinformasi terkait pilpres mencakup konten yang berniat menyesatkan pemilih tentang waktu, tempat, cara atau persyaratan untuk memberikan suara, atau klaim palsu yang bisa menghalangi pemungutan suara.

"Konten dari video ini tidak sampai ke level itu, jadi tidak dihapus," kata juru bicara YouTube Andrea Faville kepada CNBC.

YouTube mengatakan mereka telah menghentikan penayangan iklan di video tersebut sehingga memutus pendapatan untuk kreatornya. Dalam kebijakannya, YouTube mengatakan mereka tidak mengizinkan iklan untuk tayang di konten yang merusak kepercayaan kepada pemilu dengan informasi yang terbukti salah.

"(Hasil) pilpres belum diumumkan. Maka dari itu, ini masuk dalam cakupan kebijakan kami yang terbukti salah dan akan didemonetisasi oleh YouTube," kata juru bicara YouTube lainnya Christa Muldoon.

Selain menarik iklan dari video tersebut, YouTube juga menambahkan panel di bawah video tersebut yang mengatakan bahwa hasil pilpres masih belum final, dengan tautan ke halaman depan Google yang menampilkan hasil penghitungan suara terbaru.

YouTube juga sebelumnya telah menghapus video livestream yang menampilkan hasil penghitungan suara palsu karena dianggap melanggar kebijakan tentang spam.

Kebijakan YouTube yang sedikit membingungkan terkait klaim kemenangan prematur sangat kontras dengan media sosial lainnya seperti Facebook dan Twitter.

Sejak pemungutan suara pilpres AS ditutup, Facebook telah menandai postingan dari pihak yang mengklaim kemenangan di negara bagian kunci secara prematur. Twitter juga menandai cuitan dan membatasi penyebarannya, termasuk cuitan Trump, dengan peringatan yang mengatakan penghitungan suara belum selesai dan hasilnya belum final.



Simak Video "Usai Akunnya Diblokir, Trump Tuduh Platform Medsos Pecah Belah Bangsa"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/afr)