Ini Cara Kerja Teknologi Plasmacluster untuk Lumpuhkan Virus

Ini Cara Kerja Teknologi Plasmacluster untuk Lumpuhkan Virus

Angga Laraspati - detikInet
Selasa, 22 Sep 2020 17:30 WIB
happy young woman pointing at air conditioner hanging on wall with remote control
Foto: iStock
Jakarta -

Sharp Electronics bersama 2 universitas ternama di Jepang melakukan sebuah penelitian yang menemukan teknologi Plasmacluster ternyata mampu untuk mengurangi jumlah virus yang tersuspensi di udara hingga 91,3%. Bagaimanakah teknologi ini mampu untuk meminimalisir jumlah virus yang terdapat di udara tersebut?

Head Section PCI Product Strategy Sharp Indonesia Yudha Hari Putra mengatakan teknologi yang sudah dipatenkan oleh Sharp ini mampu menghasilkan ION positif dan negatif yang dapat menyebar ke seluruh ruangan dan dapat membersihkan udara di ruangan tersebut.

"Plasmacluster dihasilkan dari ION Generator, jadi ION generator ini mampu menghasilkan ION positif dan negatif yang didapat dari dari molekul air H20 dan juga oksigen. Dua molekul ini terkena elektroda ION dan menghasilkan ION positif dan negatif," ungkap Yudha saat acara 'SHARP Plasmacluster Webinar 2020' yang digelar secara online, Selasa (22/9/2020).

Yudha melanjutkan, ION tersebut dikelilingi oleh molekul air sehingga bisa bertahan lama di udara. Ketika sudah tercipta di ION generator, ION positif dan negatif tersebut dapat menempel pada bagian tubuh suatu virus maupun bakteri dan memecahnya sehingga virus yang ada menjadi tidak aktif.

"Secara keseluruhan Plasmacluster ini bermanfaat untuk menonaktifkan virus, bakteri, menetralisir bau, alergen, dan termasuk melembapkan kulit. Manfaat lainnya adalah menekan pertumbuhan virus, pertumbuhan virus ini banyak terjadi khususnya di daerah-daerah yang kelembabannya tinggi," tutur Yudha.

Lebih lanjut, banyak yang mempertanyakan apakah teknologi Plasmacluster ini aman untuk manusia atau tidak? Menjawab hal itu, Sharp Corporation di Jepang telah menjalani beberapa penelitian dengan laboratorium melalui cara memaparkan ION Plasmacluster dengan jumlah yang sangat besar ke kulit, mata, dan saluran pernapasan.

"Hasilnya, tidak ditemukan efek negatif terhadap kulit, mata, dan juga pernafasan. Dites juga dengan lebih dari 13 juta ION terhadap mata, kulit, pernapasan dan juga bayi di dalam kandungan. Teknologi plasmacluster ini juga telah diteliti dengan lebih dari 8 negara dan total lebih dari 30 universitas maupun laboratorium penelitian yang membuktikan teknologi ini mampu menekan virus hingga pertumbuhan jamur," imbuh Yudha.

Senada dengan Yudha, General Manager of Global Plasmacluster Equipment Planning SHARP Corp Hiromasa Okajima mengatakan sebuah uji coba yang dilakukan oleh 3 Profesor di Jepang juga menemukan teknologi Plasmacluster berguna untuk menghancurkan spike protein yang tersebar di udara dengan cara menegatifkan atau menonaktifkan virus.

Uji coba pun dilakukan dengan cara menyemprotkan cairan yang berisi virus yang berukuran 2 mikron ke dalam sebuah box yang di dalamnya terdapat Plasmacluster, kemudian cairan tersebut dikumpulkan kembali di dalam suatu wadah.

"Setelah ditangkap kemudian di tes kembali, dan diukur seberapa banyak virus yang ada dengan menggunakan metode plaque assay. Jadi virus dikembangbiakan di dalam sebuah media, hasilnya adalah jumlah virus yang menular tanpa Plasmacluster itu ada 17.600 sedangkan yang menggunakan Plasmacluster jumlah virus tersisa hanya 1.530 jadi Plasmacluster ini efektif mengurangi virus hingga 91,3%," pungkas Okajima.



Simak Video "Sharp Alih Produksi Bikin Masker untuk Pasien Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/fay)