Pasien Non-China Pertama Wafat Kena Corona Tak Pernah ke China

Pasien Non-China Pertama Wafat Kena Corona Tak Pernah ke China

Fino Yurio Kristo - detikInet
Kamis, 10 Sep 2020 22:35 WIB
Positive blood test result for the new rapidly spreading Coronavirus, originating in Wuhan, China
Ilustrasi. Foto: iStock
London -

Seorang kakek di Inggris disebut-sebut sebagai pasien pertama di luar China yang meninggal setelah terkena virus Corona. Pasien tersebut awalnya sakit pada sekitar akhir bulan Desember silam dan meninggal dunia pada akhir Januari. Anehnya, dia disebut tidak pernah bepergian ke China.

Dikutip detikINET dari New York Post, pasien bersangkutan namanya Peter Attwood yang berusia 84 tahun. Awalnya, kematiannya disebut sebagai akibat gagal jantung dan pneumonia lantaran dokter tidak berhasil menemukan apa penyebab batuk dan demam yang ia derita.

Sebagian sampel dari paru-paru diambil untuk tes lebih lanjut. Nah minggu lalu keluarganya mengkonfirmasi bahwa Peter terdeteksi meninggal karena infeksi COVID-19.

Kematiannya pada 30 Januari membuatnya jadi korban pertama Corona di luar China. Sebelumnya, pasien meninggal pertama adalah pada 1 Februari, ketika seorang pasien berusia 44 tahun meninggal di Filipina. Ia sebelumnya pergi ke Wuhan, tempat awal wabah Corona.

Atwood tidak pernah pergi ke luar Inggris sehingga mengindikasikan virus Corona sudah menyebar di Inggris sebelum akhirnya terdeteksi. Pihak keluarga pun sedih dan menuding pemerintah China menutup-nutupi keganasan virus Corona pada awal wabah terjadi.

"Virus itu tentunya berkembang liar di negara ini pada Desember lalu, atau bahkan lebih awal lagi. China menutup-nutupi sejak permulaannya. Jika China tak bohong pada dunia dan menyembunyikan hal ini sedemikian lama, nyawa tak terhitung bisa selamat," tuding putrinya, Jane Buckland.

"Ayahku bisa saja masih ada di sini seandainya kita sudah tahu tentang ancaman virus mengerikan ini lebih awal," tambah dia. Selain sang ayah, Jane curiga sebenarnya beberapa anggota keluarganya juga tertular Corona ketika itu, demikian pula dirinya.

"Aku mengalami semua gejala COVID-19, batuk kering, demam, linu dan diare, sebelum Natal, tapi tak ada yang tahu apa itu. Aku pergi ke pesta Natal dan memeluk serta mencium setiap orang, itulah yang dilakukan pada acara semacam itu," kisah Jane.

Jane pun tak heran jika Corona mewabah di Inggris karena yakin sudah ada sebelum terdeteksi. Adapun opininya bahwa China menutupi Corona juga didukung oleh anggota parlemen Inggris, Tom Tugendhat. "Kerahasiaan China soal munculnya COVID membawa risiko pada jutaan orang," katanya.

Pemerintah China sendiri sudah berulangkali melontarkan bantahan bahwa pada awal kemunculannya, mereka berusaha menyembunyikan parahnya virus Corona dan tidak ada bukti soal itu.



Simak Video "Pemerintah Biayai Perawatan Pasien Corona, Termasuk untuk WNA"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)