Kontroversi Anji, Pengamat Ingatkan Influencer Hati-hati

Kontroversi Anji, Pengamat Ingatkan Influencer Hati-hati

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 04 Agu 2020 17:08 WIB
Hadi Pranoto dan Anji
Anji dan Hadi Pranoto dalam videonya yang kontroversial tentang obat COVID-19. Foto: Instagram @duniamanji
Jakarta -

Musisi Erdian Aji Prihartanto alias Anji membuat kegaduhan terkait video kontroversial klaim obat COVID-19. Para influencer di media sosial diingatkan agar lebih berhati-hati.

Pengamat media sosial Enda Nasution mengatakan, kasus ini ada hubungannya dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap otoritas, entah itu pemerintah, WHO, dokter, dan lain-lain.

"Dalam kondisi normal pun ada banyak orang yang nggak percaya dengan otoritas. Masyarakat ini kesulitan untuk menentukan harus percaya pada siapa. Akhirnya strategi masyarakat adalah percaya sama orang yang dinilai lebih darinya seperti para tokoh, influencer, pemuka agama, dan lain-lain," urainya saat dihubungi detikINET, Selasa (4/8/2020).

Secara umum, menurutnya, di zaman sekarang ada individu-individu yang punya audience besar, namun memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai apa yang ingin dibahasnya.

"Kalau dulu orang harus difasilitasi media, dan media punya kode etik sendiri, check and recheck, agar masyarakat dapat informasi dari sumber yang benar. Tapi sekarang banyak orang dengan follower yang banyak melakukan itu sendiri, padahal pendapat dan pengetahuannya mungkin terbatas," kata Enda.

Apakah ini artinya perlu dibuat regulasi semacam kode etik bagi influencer? Enda berpendapat, pada dasarnya sulit menerapkan aturan khusus seperti kode etik influencer. Yang bisa dilakukan adalah memaksimalkan peran kita sebagai masyarakat untuk melaporkan dan memberikan sanksi sosial.

"Menurut saya kita manfaatkan saja aturan dan norma yang ada sekarang, yang sudah ada secara hukum dan secara etika sosial. Laporkan, beri sanksi sosial, dan sebagainya," ujarnya.

Pertama, menurutnya masyarakat harus mengetahui kenyataan ada orang-orang seperti itu, sehingga kita memang harus memilih mana yang bisa dipercaya.

"Setidaknya untuk kita sendiri, jangan terlalu gampang percaya yang disampaikan di internet, tidak ikut menyebarkan sesuatu yang belum pasti, kalau bisa kita cari infomasi yang benarnya gimana. Kalau punya kemampuan lebih, kita coba mengklarifikasi yang benar setelah melakukan fact check untuk meng-counter berita tersebut," papar Enda.

Di luar itu, kata Enda, kita juga bisa memberikan sanksi sosial pada orang yang sudah memberi informasi yang salah dengan tidak ikut menyebarkan kontennya, dengan tidak lagi follow atau unsubscribe akunnya, dan melaporkan ke pemilik platform agar konten di-take down.

Enda juga mengingatkan agar para pemilik akun yang memiliki audience besar harus lebih berhati-hati karena apa yang mereka tampilkan punya konsekuensi lebih berat.

"With great power comes great responsibility. Buat yang punya audience besar, tak cuma influencer, politisi, selebriti, pemuka agama dan lain-lain, nggak bisa sembarangan. Ucapan dan konten kalian bisa mencelakakan diri sendiri, tapi yang paling bahaya bisa juga mencelakakan orang lain, bahkan menimbulkan kerugian materi, bahkan korban jiwa," tutupnya.



Simak Video "Sentilan Joko Anwar soal Video Anji-Hadi Pranoto"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)