Takut Langgar HAM, IBM Mundur Kembangkan Pendeteksi Wajah

Takut Langgar HAM, IBM Mundur Kembangkan Pendeteksi Wajah

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 09 Jun 2020 14:44 WIB
The logo of IBM is seen on a computer screen in Los Angeles, California, United States, April 22, 2016. REUTERS/Lucy Nicholson/File Photo
Takut Langgar HAM, IBM Mundur Kembangkan Pendeteksi Wajah (Foto: Reuters/Lucy Nicholson)
Jakarta -

Di tengah isu rasialisme yang tengah merebak di Amerika Serikat (AS), reaksi terhadap teknologi pendeteksi wajah di kalangan pemerintah mulai meluas ke perusahaan teknologi besar. Chief IBM Arvind Krishna, mengirimkan surat ke Dewan Kongres AS yang menyatakan perusahaannya keluar dari bisnis teknologi pengenalan wajah.

Perusahaan tersebut menentang keras penggunaan teknologi untuk pengawasan profil rasial. Menurut Krishna, hal ini berpotensi melanggar kebebasan dan hak asasi manusia.

Sebaliknya, ia menyarankan bahwa sekarang adalah momen untuk melakukan 'dialog nasional', tak hanya tentang bagaimana pengenalan wajah harus digunakan, tetapi juga apakah teknologi ini harus digunakan atau tidak.

"AI (kecerdasan buatan) adalah 'alat yang tangguh' untuk penegakan hukum. Tetapi penggunaannya harus tetap dicek dengan tes yang diaudit untuk menghindari bias," ujarnya seperti dikutip dari Engadget.

Dia juga mendorong penggunaan teknologi yang meningkatkan akuntabilitas dan transparansi, salah satu contohnya adalah kamera tubuh.

Pernyataan yang disampaikan Krishna adalah bagian dari seruan yang lebih luas pada Dewan Kongres AS untuk mendorong akuntabilitas polisi yang lebih luas dan melakukan reformasi, termasuk beberapa yang sudah menjadi bagian dari Justice in Policing Act 2020 yang baru saja diperkenalkan.

Langkah ini yang dilakukan IBM ini masih terkait isu rasialisme yang sedang ramai disuarakan di AS, dan tak lama setelah perusahaan teknologi pengenalan wajah Clearview AI mengangkat masalah privasi dan bias.

Lebih dari satu laporan telah mengindikasikan bahwa sistem pengenalan wajah dapat bias terhadap non-kulit putih dan perempuan, terutama jika data training dari orang-orang kelompok kelompok tertentu yang digunakan relatif sedikit.

Sementara itu, beberapa sistem pengenalan wajah yang hanya dapat menghubungkan wajah dengan data yang tersedia untuk umum. Ada kekhawatiran ini dapat digunakan untuk pelacakan dan pembuatan profil yang dapat digunakan untuk mengintimidasi orang atau membatasi privasi mereka di dunia nyata.

Mungkin relatif mudah bagi IBM untuk mundur, mengingat teknologi pengenalan wajah bukan merupakan bisnis dan teknologi utamanya. Bagaimanapun, IBM adalah perusahaan teknologi besar dan terpandang serta dikenal sering bekerja sama dengan kalangan pemerintah.

Sejumlah pengamat menilai, hal ini bisa saja memacu perusahaan lain yang mengembangkan teknologi pendeteksi wajah mengikuti langkah IBM. Bahkan bukan tidak mungkin, hal ini justru membuat sebagian konsumen atau lembaga mengurungkan niat untuk berinvestasi dalam teknologi pengenalan wajah.



Simak Video "Cuplikan 'Coronation', Dokumenter Seniman Tiongkok yang Bikin Heboh"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)