Senin, 06 Jan 2020 12:15 WIB

Mengintip Teknologi Drone Amerika yang Tewaskan Jenderal Iran

Fino Yurio Kristo - detikInet
Drone Amerika Serikat. Foto: Getty Images
Jakarta - Dunia dihebohkan dengan pembunuhan Komandan Garda Revolusi Iran, Mayor Jenderal Qasem Soleimani, dalam serangan misil yang ditembakkan lewat drone Amerika Serikat. Iran berjanji balas dendam sedangkan AS menganggap aksi itu pantas dilakukan.

Drone yang dipakai dalam serangan tersebut adalah MQ-9 Reaper yang terbang nyaris sunyi. Di angkasa, MQ-9 Reaper meluncurkan misil Hellfire yang dipandu laser, mengarah dengan tepat dan menghancurkan konvoi mobil Soleimani.

Dikutip detikINET dari Daily Mail, drone tersebut diterbangkan dari markas US Central Command yang berlokasi di Qatar. Dikendalikan oleh dua pilot secara remote, MQ-9 Reaper bisa terbang sampai 370 kilometer per jam dan dapat menyerang di lokasi manapun serta memperlihatkan tayangannya.


Reaper yang ongkos pembuatan satu unitnya ini USD 64 juta (Rp 893,4 miliar) dapat membawa 4 misil Hellfire dengan daya ledak cukup dahsyat, mampu menghancurkan tank. Penerbangan drone hampir-hampir tak menimbulkan suara sehingga target serangan tak menyadarinya.

Dilaporkan bahwa misil yang ditembakkan sudah dimodifikasi, namanya Hellfire R9X 'Ninja', yang didesain untuk meminimalisir kerusakan di sekitarnya. Moncongnya terdiri dari semacam bilah bilah pisau tajam dan mematikan.

Serangan presisi semacam itu membutuhkan pengamatan intelijen yang mendetail soal target serangan. Soleimani dilaporkan terus diawasi oleh intelijen AS, Israel, sampai Arab Saudi sebelum ditembak.

Menurut New York Times, Pentagon meraup informasi dari informan, pembajakan elektronik, pesawat pengintai dan teknik lainnya. Semuanya untuk memantau pergerakan Soleimani.
Selanjutnya
Halaman
1 2