Rabu, 04 Des 2019 12:55 WIB

Kisah Pendirian Alphabet yang Kontroversial

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Larry page. Foto: Getty Images Larry page. Foto: Getty Images
Jakarta - Pendiri Google Larry Page dan Sergey Brin pelan-pelan 'menghilang' dari perusahaan bikinannya itu sejak 2015, tepatnya saat mereka membuat Alphabet, yang menjadi induk Google. Disebut kontroversial karena hilangnya kedua pendiri Google itu bertepatan dengan meningkatnya pengawasan terhadap perusahaan teknologi besar, seperti Google.

Pendirian Alphabet itu sekaligus menjadi restrukturisasi besar-besaran di Google, di mana Alphabet didesain untuk mengurus proyek coba-coba mereka, seperti laboratorium X dan Waymo, yang kini menjadi unit bisnis tersendiri.

Google sendiri tetap mengurus bisnis utama mereka, seperti mesin pencari dan lainnya, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Rabu (4/12/2019).

Namun dibuatnya Alphabet ini memang seperti memberi kesempatan bagi Page dan Brin untuk menghilang dari sorotan publik, dan mengalihkan sorotan itu ke Sundar Pichai, CEO Google yang kini juga menjadi CEO Alphabet.


Page kemudian lebih sering muncul di perusahaan lain seperti Kitty Hawk, yang membuat pesawat elektrik. Sementara Brin hampir tak pernah terlihat di pemberitaan, kecuali saat ia muncul di Bandara Internasional San Francisco pada 2017 untuk memprotes aturan imigrasi yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump.

Sergey Brin saat berkunjung ke KemenkominfoSergey Brin saat berkunjung ke Kemenkominfo Foto: Anggoro Suryo Jati/detikINET

Namun perlu dicatat juga, sejak Alphabet berdiri, nilai saham mereka sudah tumbuh lebih dari dua kali lipat, begitu juga pemasukan perusahaan. Pichai memang terbilang sukses dalam mengembangkan Google dan merambah bisnis-bisnis lain, seperti lini ponsel Pixel, dan berbagai hardware lain buatan Google.

Dalam laporan keuangan kuartal pertama sejak Alphabet dibentuk, mereka mencatatkan nilai penjualan sebesar USD 18,7 miliar. Kini, dalam laporan keuangan kuartal yang terakhir, Alphabet mencatatkan penjualan lebih dari USD 36,3 miliar.
Selanjutnya
Halaman
1 2