Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Induk TikTok Rambah Bisnis Mesin Pencari

Induk TikTok Rambah Bisnis Mesin Pencari


Anggoro Suryo Jati - detikInet

Foto: Joe Scarnici/Getty Images
Jakarta - Sepeninggal Google, praktis bisnis mesin pencari di China dikuasai oleh Baidu. Namun kini mereka akan mendapat penantang baru, yaitu TikTok.

Dilansir dari Bloomberg, Jumat (2/8/2018), ByteDance -- induk TikTok -- mengaku akan merambah bisnis mesin pencari di China demi mengeruk pemasukan dari segi periklanan.

"Dari 0 sampai 1, kami akan membangun mesin pencari umum yang bisa memberikan pengalaman pengguna lebih ideal," tulis ByteDance dalam pernyataannya di postingan WeChat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun ByteDance tampaknya tak akan mesin pencari biasa yang standalone, seperti Baidu dan Google. Pasalnya saat ini di China, kebanyakan orang tak menggunakan mesin pencari yang seperti itu.


ByteDance bakal membuat mesin pencari yang dibenamkan di dalam aplikasinya, dimulai dari layanan berita Jinri Toutiao. Dengan begitu, pengguna bisa dengan cepat mencari berita terkait, informasi, ataupun produk, dan ByteDance pun bisa mendapat keuntungan dari pencarian tersebut karena menampilkan iklan.

Layanan mesin pencari itu pun bakal bisa berfungsi dengan Douyin, TikTok versi China, termasuk platform populer video streaming milik ByteDance. Saat ini mereka sudah mulai merekrut pegawai dari Baidu, Google, dan Microsoft Bing.

Pembuatan mesin pencari ini menunjukkan ambisi Zhang Yiming, pendiri ByteDance, yang ingin menciptakan perusahaan teknologi raksasa baru. Hal itu terlihat dari sejumlah kreasinya yang terbilang selalu sukses.

Setelah menciptakan Toutiao di China, ia mengubah TikTok menjadi aplikasi yang sangat populer secara global, dengan pengguna tersebar dari Beijing, Boston, dan bahkan di Bangalore, India.

Valuasi dari startupnya yang baru berusia 7 tahun itu sudah mencapai USD 75 miliar, lebih tinggi dari startup mana pun di dunia. Dan kini ia masih ingin berekspansi dengan lebih banyak aplikasi dan ponsel buatannya sendiri.

Sementara di sisi lain, Baidu masih berusaha bertahan menghadapi gempuran dari rivalnya seperti Alibaba dan Tencent. Valuasi Baidu pun merosot menjadi cuma USD 38 miliar, setengah dari valuasi mereka dua tahun lalu.


(asj/krs)
TAGS





Hide Ads