Senin, 17 Jun 2019 20:07 WIB

Dicurigai Amerika, Ilmuwan China Dilanda Kecemasan

Fino Yurio Kristo - detikInet
Ilustrasi. Foto: Thinkstock Ilustrasi. Foto: Thinkstock
Washington - Kontribusi ilmuwan China bagi perkembangan teknologi Amerika Serikat tak dapat dipandang remeh. Akan tetapi perlakuan AS belakangan berpotensi membuat mereka tertekan ataupun kebingungan.

Menurut riset profesor Harvard, William R. Kerr, lebih dari 10% penemuan di AS saat ini dibuat oleh ilmuwan etnis China. Menurut lembaga MacroPolo, kebanyakan ilmuwan artificial intelligence atau kecerdasan buatan adalah imigran dari China. Pembatasan ruang gerak ataupun visa mahasiswa dan ilmuwan China pun berpotensi merugikan AS sendiri.

"Kebijakan pemerintahan Trump untuk memperlemah bakat China untuk Amerika adalah kebodohan. AS memang perlu melindungi properti intelektual, namun usaha mengisolasi bakat China bisa berdampak negatif pada negara kita dalam jangka panjang," tandasnya yang dikutip detikINET dari South China Morning Post.




AS belakangan khawatir para orang pintar China di negaranya berpotensi jadi mata-mata dan memberi informasi berharga pada China. Tapi di sisi lain, beberapa orang China paling cemerlang berkontribusi pada inovasi di negeri Paman Sam.

Orang China yan belajar atau bekerja di bidang sensitif kini menghadapi waktu visa lebih pendek, penundaan bahkan penolakan visa. Pertengahan Mei lalu, dua profesor China di Emory University dipecat karena diduga didanai oleh China.

Beberapa tindakan AS itu dinilai diperlukan, tapi juga menimbulkan kekhawatiran pada komunitas ilmuwan China. Apalagi selama beberapa dekade, pertukaran pendidikan adalah faktor penting dalam hubungan baik antara AS dengan China.




Tapi memang pemerintahan Donald Trump bertindak keras dan tidak mau membiarkan inovasi AS diangkut ke China, apalagi di tengah sengitnya perang dagang. Ilmuwan dan pelajar asal China dianggap oleh beberapa pejabat AS sebagai agen Beijing.

"Kampus AS memang masih superior baik dalam pendidikan dan riset. Tapi perang dagang dan teknologi ini akan memberikan dampak psikologis besar bagi mahasiswa dan ilmuwan China yang bekerja di AS,' cetus Junhui Qian, profesor di Shanghai Jiao Tong University.

"Namun China akan menjadi lebih atraktif ketika mereka berpikir soal karir masa depan. Dalam hal ini, pemerintahan Trump sebenarnya malah membantu China dan merusak kepentingan AS,' tambah akademisi lulusan Rice University di Texas ini.




Perkembangan teknologi di China memang mengesankan, banyak manusia-manusia pintar yang menempuh pendidikan di mancanegara kembali pulang karena banyak peluang. Akan tetapi mereka juga bisa mengalami dilema tersendiri karena China pun tak sempurna.

"Bagi ilmuwan China, di mana hati mereka berada? Di negara sendiri, di mana pemerintahan otoriter kian mencengkeram masyarakat, dibantu teknologi untuk mengintai dan sensor? Atau di negara di mana presidennya secara aktif menolak mereka, di mana mereka disebut mata-mata?," tanya Cheng Yangyang, akademisi Cornell University. (fyk/krs)