Clipper atau cuplikan film termasuk salah satu konten yang diminati netizen di media sosial. Akan tetapi, clipper ilegal ternyata cuma bikin produser merugi.
Ditemui di acara pemaparan hasil riset Kerugian Pembajakan Film dan Konten Indonesia oleh Asosiasi Video Streaming Indonesia (AVISI) dan Universitas Pelita Harapan (UPH), Celerina Judisari selaku Plt. Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia mengatakan bahwa clipper ini sebenarnya memang ada yang dijadikan alat promosi film. Ketika orang lain membuat clipper non-resmi, apalagi jatuhnya menceritakan film secara keseluruhan, ini lah yang jadi masalah.
"Kalau sebagai produser itu biasanya kita ada skema pendapatan, gitu kan. Biasanya tuh produser akan bermimpi, 'Oh, nanti uangnya itu akan kembali dari 1, 2, 3, dari bioskop'. Eh, udah dicolong sama clipper-nya," ujar Celerina di Grand Mercure Harmoni, Jakarta Pusat, Kamis (15/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Satu, itu udah sakit, nih. Terus berikutnya lagi, masuk lagi ke OTT (Over-the-Top), itu lebih heboh," sambungnya.
Ketika sebuah film atau series masuk ke OTT, kenyataan pahitnya, konten pembajakan dengan cepat tersebar dalam hitungan detik. Menjadi seorang produser, Celerina mengaku ada tanggung jawab atas karyanya, meskipun secara kasarnya ia sudah menerima uang dari platform OTT.
"Sehingga biasanya kita itu berkirim surat, misalnya ke Komdigi. Lalu, kita memang punya tim sendiri yang untuk men-take down. Men-take down, kalau di YouTube, ya, itu kita berkirim surat ke YouTube. Tapi kan nggak bisa setiap hari begitu," keluhnya.
Celerina menegaskan membuat film bukanlah hal mudah, butuh investasi waktu, tenaga, hingga uang yang tidak sedikit. Pada akhirnya, jika pemasukan juga tidak maksimal, maka pembuat film juga tak dapat berinvestasi membuat film yang baik.
"Pada akhirnya, genre akan tetap sama. Kemudian perluasan edukasi untuk genre yang lain tidak akan terjadi. Juga perluasan dari marketnya itu sendiri," ungkapnya.
Kembali ke clipper, Celerina menyebut adanya perubahan tren. Ketika dulu produser sering menyimpan cuplikan-cuplikan film untuk dikeluarkan nanti, justru sekarang clipper digunakan sebagai alat promosi. Tujuannya adalah menciptakan percakapan di tengah masyarakat soal film/series tersebut.
"Kalau produsernya pintar, dia akan bisa mengolah. Tapi kalau udah dibajak, itu jadi keterlaluan," tandasnya.
(ask/fay)