Senin, 08 Apr 2019 17:00 WIB

China Sudah Bisa Buat Film Pakai Kecerdasan Buatan

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Proses pembuatan film menggunakan kecerdasan buatan oleh studio asal China. Foto: dok. Rct Studio Proses pembuatan film menggunakan kecerdasan buatan oleh studio asal China. Foto: dok. Rct Studio
Jakarta - Akhir tahun lalu, salah satu stasiun televisi China, Xinhua, sukses bikin kejutan dengan memamerkan penyiar berita virtual. Xinhua menyatakan penyiar berbasis artificial intelligence (AI) itu dapat bekerja 24 jam.

Kini, penerapan kecerdasan buatan oleh Negeri Tirai Bambu semakin luas berkat jasa sebuah startup bernama Rct Studio. Mereka sudah bisa membuat film yang naskahnya dibuat oleh AI.


via GIPHY



Morpheus, begitu mesin berbasis kecerdasan buatan mereka dinamai, diklaim dapat melakukan render dari teks menjadi gambar tiga dimensi. Jadi, ketika, misalnya, kamu mengetik "seorang pria duduk di sofa", maka komputer akan langsung membuat animasi terkait.

Untuk membuat hal tersebut menjadi kenyataan mereka memberi 'makan' Morpheus berupa tulisan naskah yang dibuat oleh manusia. Jika kode yang diberikan cukup, Rct Studio berharap mesin buatannya bisa mempelajarinya sendiri sekaligus mengejewantahkan idenya.

"Butuh waktu dan usaha yang lebih bagi manusia untuk bisa menghadirkan sebuah cerita yang logis. Dengan mesin, kita bisa cepat membuat narasi yang jumlahnya tak terhitung," ujar Xinjie Ma, Head of Marketing Rct Studio.

Tak cuma proses pembuatannya filmnya yang kental akan teknologi. Hal yang sama pun juga tampak pada cara menikmatinya.

Rct Studio menyebut tiap penonton harus menggunakan perangkat virtual reality (VR) dan mengontrol alam simulasi itu dengan suaranya. Lebih lanjut, mereka turut berencana untuk membuat perangkat khusus agar 'perjalanan' di dalam dunia virtual itu lebih hidup.

"Ini seperti bagaimana film Ready Player One membuat gadget-nya sendiri untuk dunia virtual," kata Ma, sebagaimana detikINET kutip dari Tech Crunch, Senin (8/4/2019).


Dirinya menambahkan, perusahaan tempatnya bekerja memiliki kemiripan dengan Pixar, studio kenamaan di balik terciptanya film Toy Story hingga Coco. Hal tersebut lantaran keduanya sama-sama berawal sebagai perusahaan teknologi, lalu menerbitkan filmnya sendiri, dan telah membangun mesin yang dapat melakukan render.

"Banyak studio menanyakan seberapa besar kami menghargai mesin kami, tapi kami menargerkan pasar konsumen. Membuat film sendiri memberikan tanggung jawab lebih ketimbang sekadar menjual software," pungkasnya. (mon/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed