Uang Kini jadi Motivasi Terbesar Hacker
- detikInet
Jakarta -
Kalau dulu rasa penasaran dan kebanggaan jadi alasan hacker melangsungkan aksinya, kini alasan finansial tampaknya lebih mendominasi. Hal itu diungkap perusahaan anti virus, Symantec Corp.Laporan ancaman keamanan internet Symantec Corp mengungkap, selama semester pertama tahun 2005 jumlah virus baru yang membidik pengguna Microsoft Windows mencapai 11.000 virus. Angka tersebut menunjukkan peningkatan 48 persen dibandingkan enam bulan sebelumnya.Hal tersebut dipicu akan adanya penggunaan tools terbaru, ditambah makin pintarnya teknik yang mereka gunakan.Perusahaan tersebut juga menemukan bahwa tiga perempat dari 50 virus besar, bertujuan untuk menyadap informasi pribadi. Jumlah tersebut menningkat 54 persen dibanding semester terakhir 2004.Laporan tersebut juga mengatakan, adanya pertumbuhan program yang memungkinkan penyebaran spam dari komputer ke komputer. Program seperti itu bisa men-download dan meng-install adware untuk menampilkan iklan pop up di browser pengguna.Lebih lanjut laporan tersebut juga menyebut keberadaan robot atau "bot" jaringan, yang sangat mudah didapatkan di internet, baik yang dijual maupun yang disewakan. Robot tersebut biasanya digunakan oleh hacker untuk menyusupi ke sejumlah besar komputer."Seiring dengan makin besarnya imbalan yang dijanjikan, para hacker pun makin makin bersemangat mengembangkan program pengganggu yang lebih 'canggih'. Tak tanggung-tanggung, program buatan mereka bahkan ditujukan untuk melumpuhkan antivirus, firewall dan perangkat keamanan lainnya," papar laporan tersebut.Vincent Weafer, pakar keamanan internet dari Symantec mengatakan, pelaku kejahatan cyber dulunya bermotivasi rasa bangga dan reputasi, dalam menyebarkan virus. Saat ini motivasinya berbeda, yaitu lebih karena alasan finansial.Symantec menemukan rata-rata ada 10.532 bot jaringan komputer aktif setiap harinya, naik 140 persen lebih, dibanding enam bulan sebelumnya.Mereka juga mengungkap adanya peningkatan e-mail penipuan hingga mencapai 5,7 miliar per harinya, dari sebelumnya berjumlah 2,99 miliar. Demikian seperti dilansir Reuters dan dikutip detikinet, Selasa (20/9/2005).
(nks/)