Senin, 09 Jul 2018 16:16 WIB

Ramai-ramai Soal Cebong-Kampret di Medsos

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Twitter dan Penggunanya. Foto: Reuters/Kacper Pempel Twitter dan Penggunanya. Foto: Reuters/Kacper Pempel
Jakarta - Senang main Twitter? Mungkin istilah 'cebong' sudah cukup lama terdengar di kuping para pengguna media sosial yang satu ini. Sekarang, ramai dibahas kata lain sebagai pendamping dari istilah tersebut, yang uniknya sama-sama nama hewan, yaitu 'kampret', seakan membuat mereka menjadi duo "cebong-kampret".

Walau terhitung baru menjadi perbincangan hangat, istilah 'kampret' pun juga sudah cukup lama muncul dari jari-jemari netizen di Twitter. Hal tersebut terlihat dari sejumlah kicauan yang muncul pada bulan lalu berikut ini:










Melihat konteksnya, dua istilah tersebut digunakan sebagai kata ganti dari pembela kubu-kubu tertentu yang berseberangan di ranah politik. Padahal, arti 'cebong' dan 'kampret' yang sebenarnya sangat jauh dari situ.


Berdasarkan aplikasi KBBI V (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima) yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, 'cebong' merupakan kata dalam Bahasa Jawa yang berarti berudu. Sedangkan 'kampret' adalah kelelawar kecil pemakan serangga, hidungnya berlipat-lipat.

Lalu, siapa yang pertama kali memunculkan konteks tersebut dari penggunaan dua kata tersebut? Ismail Fahmi, founder PT. Media Kernels Indonesia, punya pandangannya terhadap hal ini.

"Susah, karena harus memproses data ke belakang," katanya kepada detikINET, Senin (9/7/2018).

Dengan misteri siapa orang dibalik kemunculan dua istilah itu, sepertinya masih menarik disimak sampai mana penggunaan kata 'cebong' dan 'kampret' di media sosial akan berlangsung. Satu yang pasti, user patut berhati-hati dalam bermain media sosial.

Hal tersebut disebabkan, menurut Dwi Adriansah, Country Industry Head Indonesia & Malaysia Twitter, media sosial adalah sebuah public domain.

Baginya, ada kemungkinan suara siapa pun di dalamnya dapat terdengar, baik itu berasal dari orang terkenal maupun tidak. Dengan adanya kemungkinan suara kita akan terdengar, maka pastikan apa yang kita katakan adalah hal-hal baik dan bermanfaat.

(mon/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed