Onno W. Purbo
'Indonesia Jangan Jadi Pengemis di WSIS'
- detikInet
Jakarta -
Ajang World Summit on Internet Society (WSIS) tahap kedua akan digelar November 2005. Penggiat Internet Onno W. Purbo mengharapkan Indonesia tidak akan bersikap bagai pengemis, orang miskin atau orang bodoh dalam ajang tersebut. Lalu, bagaimana seharusnya Indonesia bersikap?WSIS adalah pertemuan tingkat tinggi yang membahas masalah-masalah masyarakat informasi dunia. Pertemuan yang digagas PBB ini paling dikenal dengan deklarasi yang mewajibkan setiap negara di dunia menyediakan akses Internet bagi 50 persen warganya pada tahun 2015.Dalam pertemuan tersebut, Indonesia akan diwakili oleh delegasi yang dipimpin oleh Departemen Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Tim akan dipimpin oleh Moedjiono, Staf Ahli Depkominfo bidang Hubungan Internasional dan Kesenjangan Digital. Saat ini tim masih dalam tahap pembentukan. Salah satu pihak yang diundang untuk menyusun tim tersebut adalah Onno W. Purbo, penggiat Internet yang hanya ingin disebut sebagai 'orang biasa'. "Yah, saya bantuin lah kalau memang diminta, demi 'merah-putih' lah," ujarnya saat dihubungi detikinet, Senin (18/7/2005). Menurut Onno ia melakukan itu tanpa menerima honor dari pemerintah. Ia hanya berharap usulannya diterima Kominfo dan Indonesia bisa berbagi pengalaman dengan negara lain. Jangan Jadi PengemisApa sih usulan Onno? "Yang saya usulkan, bangsa ini jangan ke WSIS jadi pengemis minta pemutihan software, jadi orang miskin cari utangan bank dunia, jadi orang bodoh yang belajar melulu ke bangsa lain," ujarnya. Onno memaparkan beberapa prestasi Indonesia dalam bidang Teknologi Informasi. "Banyak rakyat Indonesia yang maju bahkan secara organisasi komunitas telah banyak menunjukan banyak terobosan yang tidak pernah ada di tingkat dunia. Tidak ada gerakan masyarakat di dunia yang berhasil membebaskan frekuensi 2.4 GHz seperti yang dilakukan oleh Asosiasi Indonesia Wireles LAN dan Internet (IndoWLI). Tidak ada negara di dunia yang berhasil membangun RT/RW-net dalam jumlah banyak seperti di Indonesia," tuturnya dengan bersemangat. Oleh karena itu Onno mengusulkan agar Indonesia berangkat ke WSIS untuk memberi contoh. "Marilah kita ke WSIS dan memberikan contoh buat negara berkembang lain solusi kerakyatan tanpa bank dunia, tanpa IMF bisa memajukan bangsa ini. Itu yang banyak dicari kok, cuma ya birokrat mana ada sih yang mau dengerin Onno?" ia menambahkan. Bagaimana caranya? Onno berharap Indonesia bisa membuat gerai sendiri di ajang WSIS. Pada gerai tersebut bisa diadakan seminar dan diskusi mengenai pemanfaatan TI di Indonesia. Jika biayanya terlalu mahal, Onno menyarankan Indonesia bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain. "Jika Indonesia lebih kreatif lagi, kita dapat saja menghubungi kantor 'menteri Kominfo' negara-negara lain, untuk mengorganisir acara-acara workshop atau seminar bersama di gerai mereka," Onno mengusulkan. WSIS tahap kedua akan digelar di Tunisia, 16-18 November 2005. Selain pertemuan formal antar perwakilan setiap negara, WSIS akan dibarengi dengan ajang pameran dan diskusi. Selain itu juga ada ajang penghargaan WSIS Awards.
(wsh/)