Sabtu, 03 Mar 2018 21:56 WIB

Elon Musk Akui Amerika Serikat Tertinggal dari China, Soal Apa?

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: Istimewa/Hyperloop/The Boring Company/Geety Images Foto: Istimewa/Hyperloop/The Boring Company/Geety Images
Jakarta - Keberhasilan China dalam membangun infrastruktur membuat seorang Elon Musk mengatakan bahwa Amerika Serikat pun masih belum bisa menyaingi negara tersebut.

Melalui akun Twitter miliknya, Elon Musk menulis sebuah cuitan yang menjelaskan bahwa China memiliki kecepatan pembangunan yang lebih baik ketimbang Amerika Serikat.

"Perkembangan China dalam hal infrastruktur tingkat lanjut lebih cepat 100 kali lipat daripada Amerika Serikat," tulisnya.

Dalam kicauannya tersebut, ia pun menyertakan sebuah pemberitaan, dengan di dalamnya terdapat video berisi proyek rel kereta api yang berhasil diselesaikan oleh China dalam waktu kurang dari 9 jam.

Proyek itu sendiri merupakan pengembangan terhadap stasiun kereta api di kota Longyan, provinsi Fujian, dengan memasang persimpangan rel baru yang melibatkan sekitar 1.500 orang pekerja.

Lebih spesifik lagi, Elon Musk juga turut menyebutkan daerah-daerah dengan lingkup yang lebih kecil pun, seperti New York dan California, juga dianggapnya masih tertinggal.

Elon Musk dan The Boring Company sendiri sedang menggali terowongan untuk kebutuhan moda transportasi modern bernama Loop di dua negara bagian AS tersebut.

Sejumlah media dari China pun memberitakan 'kekaguman' Elon Musk tersebut terhadap kinerja yang ditampilkan oleh Negeri Panda itu dalam menyelesaikan sebuah proyek.



Salah satu media bahkan mengklaim bahwa ini bukan pertama kalinya dunia terpukau dengan kecepatan penyelesaian proyek yang dilakukan oleh China.

Media bernama Xinhua tersebut menyebutkan pada 2015 lalu, pengembang asal China sukses membangun gedung pencakar langit setinggi 57 lantai dalam 19 hari di kota Changsha, Provinsi Hunan.

Menariknya, meski media di China terlihat antusias dengan ucapan Elon Musk, sejumlah netizen di negara tersebut justru mengeluarkan komentar yang menggambarkan keraguan mereka terhadap kualitas dari pengembangan stasiun tersebut

Ungkapan para netizen pun didukung oleh, Christopher Balding, associate professor dari HSBC School of Business di Peking unisersity, Beijing.

Ia mengatakan bahwa terdapat sejumlah proyek di China yang masih butuh 'diselesaikan kembali' setelah pengerjaannya selesai hanya dalam waktu singkat.

"Siapapun yang pernah tinggal di China bisa menceritakan banyak kisah mengenai proyek infrastruktur yang kualitasnya rendah," katanya, seperti detikiNET kutip dari CNN, Sabtu (3/3/2018).

"Hanya karena mereka melakukannya dengan cepat, tidak berarti kualitasnya tetap terjaga," ucapnya melanjutkan.

Biaya pekerja yang murah pun, Balding menambahkan, bisa membuat para pengembang memanfaatkan orang dalam jumlah sangat banyak, berbeda dengan, misalnya Amerika Serikat, yang memiliki standar upah minimum lebih tinggi. (afr/afr)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed